"Pernyataan itu akan banyak menimbulkan implikasi. Parpol koalisi akan mulai saling curiga, apakah dikudeta atau diseret oleh masing-masing calon. Ini akan mendistorsi koalisi, padahal koalisi baru mulai bekerja," kata pengamat politik UI Arbi Sanit kepada detikcom, Selasa, (24/8/2010).
Menurut Arbi, memang bisa saja pernyataan Amien ini bertujuan untuk melihat respons masyarakat dan publik atas sosok Hatta. Namun, jika testing the water ini dilakukan sekarang, maka akan menjadi kontraproduktif karena terlalu dini dan terkesan sangat bernafsu merebut kekuasaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arbi menambahkan, seharusnya untuk mencari simpati publik bukan dengan melakukan manuver politik sebagaimana yang dilakukan Amien Rais. Tetapi lebih penting dari itu membuat aksi nyata yang hasilnya dirasakan betul oleh rakyat.
"Masa 4 tahun kita bicara capres terus? Ini menunjukkan PAN tidak menyadari prioritas masalah. Apa iya urgensi saat ini bicara capres? Bukannya lebih penting bicara soal sembako murah, keamanan dan lainnya," tegasnya.
Arbi juga menilai gagasan mencapreskan Hatta juga diyakini akan memunculkan ketegangan di Kabinet. Sebab, kabinet yang memang berisi pimpinan parpol dan dalam kendali Presiden SBY akan menjadi tidak akrab lagi jika sudah ada satu atau dua menteri yang mengincar posisi presiden.
"Pernyataan Amien ini kedodoran, offside. Bisa mengganggu kerjasama kabinet juga. Persaingan tersembunyi sudah terbangun. Padahal harusnya saat ini semua elit Indonesia harus bersatu menghadapi masalah riil. Menghadapi Malaysia, itu akan lebih terasa manfaatnya daripada bicara capres," tutupnya.
(yid/fay)











































