Seorang wanita Hong Kong yang menyebut dirinya, Nyonya Leung, marah karena polisi Manila begitu terlambat untuk menyelamatkan mereka. Menurut wanita itu, suaminya tewas dalam krisis penyanderaan itu saat berusaha mencegah pelaku penyanderaan, Rolando Mendoza, menembak penumpang lain dalam bus wisata mereka.
"Itu sangat terlambat. Kenapa tak ada yang menolong kami setelah berjam-jam?" ujar wanita itu kepada TV kabel Hong Kong seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (24/8/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami dalam ketakutan selama berjam-jam. Saya anggap ini sangat kejam," cetus Leung.
Dikatakan Leung, suaminya mengorbankan dirinya demi penumpang bus lainnya. "Saya sebenarnya ingin mati bersama dia. Tapi saya memikirkan anak-anak saya. Saya kehilangan dia," ujarnya sembari menangis.
Tragedi itu pada Senin, 23 Agustus pagi itu berawal ketika Mendoza yang bersenjatakan M-16, membajak sebuah bus wisata di Manila. Mantan anggota kepolisian yang dipecat itu melakukan penyanderaan sebagai upaya mendapatkan kembali pekerjaannya.
Negosiasi berakhir gagal pada Senin malam ketika Mendoza mulai menembaki penumpang bus. Pasukan komando Filipina pun maju menggempur bus tersebut hingga korban jiwa pun terus berjatuhan. Drama penyanderaan itu berakhir dengan kematian 8 turis Hong Kong dan tujuh orang terluka. Mendoza pun tewas diterjang peluru aparat.
(ita/fay)
