"Saya melihat ini semacam counter culture of violence atau budaya tanding kekerasan. Karena polisi banyak yang melakukan penyelesaian kejahatan yang dilawan dengan kekerasan," kata kriminolog UI, Erlangga Masdiana kepada detikcom, Selasa (24/8/2010).
Sebagai pengayom masyarakat, sedianya polisi harus bisa memberikan contoh penyelesaian masalah dengan cara yang lebih arif. "Buktinya saja dalam kasus perampokan yang di Medan (Bank CIMB Niaga), kenapa petugas polisi yang bertugas itu malah yang ditembak bukan yang lain yang ada di sekitar," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agar pandangan masyarakat berubah pada aparat penegak hukum, Erlangga menyarankan polisi mengedepankan cara pendekatan yang lebih baik dalam menyelesaikan masalah. "Menurut saya, ke depan lebih diubah (cara) pendekatan pada masyaarakat," jelasnya.
Terkait kepemilikan senjata yang dipakai oleh kawanan perampok, Erlangga mengacu pada dua kemungkinan. Pertama, mungkin saja senjata diperoleh dari daerah bekas konflik yang dalam hal ini adalah Aceh, dan yang kedua kemungkinan itu berasal dari peredaran senjata api yang mudah didapat.
Maka itu, Erlangga menghimbau, sudah saatnya polisi semakin giat untuk meningkatkan razia untuk mengantisipasi peredaran senjata api ilegal semakin luas. Selain dengan razia, dia juga meminta polisi untuk memperkuat bagian intelijen yang saat ini masih sangat lemah.
"Polisi sudah saatnya harus melakukan razia rutin dengan tapi pakaian preman supaya lebih mudah untuk mendeteksi peredaran senjata ilegal di masyarakat," tutupnya.
(lia/mok)










































