Menjejak Taman Romantis di Museum Antonio Blanco

Menjejak Taman Romantis di Museum Antonio Blanco

- detikNews
Senin, 23 Agu 2010 16:54 WIB
Denpasar - Taman hijau itu terlihat teduh. Rumput gajah dicukur rapih membentang seluas hampir satu lapangan bola yang dibelah oleh jalan setapak dari batu berpola oval tidak beraturan. Di tengah taman, terdapat air mancur setinggi 2,5 meter dengan tebaran pohon bunga di kolamnya.

Di tepian taman, berbagai pohon besar berpadu dengan perdu atau semak yang semuanya terawat dan bersih menambah keelokan taman.

Saat saya memasuki kompleks taman, saya langsung takzim. Saya mengambil posisi duduk di sebuah kursi kayu menatap bangunan megah di depan taman itu, museum lukisan Antonio Blanco.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebuah bangunan 2 lantai diantar oleh anak tangga yang menuju lantai satu. Di tengahnya, 'karpet merah' terbuat dari batu granit membuat siapa saja yang menapaki tangga terasa menuju altar kehormatan. Di sudut kiri dan kanan pucak bangunan, 5 patung para penari bali bercat emas tampak menjulang ke langit. Terlebih, lamat-lamat tendengar musik seriosa atau klasik guna menunjukkan selera si empunya museum.

"Saya kesini karena penasaran dengan selera Blanco. Ternyata sangat berkelas," kata Putri, seorang pelancong asal Jakarta, Minggu (22/8/2010).

Di bangunan 2 lantai berwarna krem, biru dan merah, puluhan karya Antonio Blanco disematkan. Lukisan itu ditaruh dalam bingkai kayu atau semen dan dicat sesuai tema lukisan yang didesain sendiri oleh sang maestro. Ukurannya disesuaikan dengan besar lukisan. Kebanyakan bermotif berukir gaya zaman rennaisance romantis. Beberapa bingkai berkalung kain warna merah untuk menambah kesan agung karya pelukis asal Spanyol tersebut.

Dari semua lukisan, terdapat satu yang paling mencolok yakni lukisan berjudul 'Bali Dancer'. Letaknya di tengah ruangan, di level yang lebih tinggi dari yang lain. 'Bali Dancer' dinilai banyak pengamat sebagai pencapaian tertinggi Antonio Blanco dalam berkarya. Sebuah lukisan penari Bali terkenal kala itu, Ni Rondji yang belakangan menjadi istrinya.

Bila Anda bukan penikmat lukisan tak usah jengah. Taman di kompleks tersebut dapat dinikmati dalam-dalam. Ada burung kakak tua warna-warni berbagai jenis yang menyambut siapa saja yang berkunjung. Terdapat juga satu bangunan khas Bali berwarna kuning emas, berukir detil. Bentuknya sangat elok berpadu dengan taman. Saat Anda memasuki gerbang taman, segelas minuman teh bercampur jeruk disajikan sebagai 'welcome drink'.

Sekali lagi, bila Anda bukan penikmat karya lukis dan sedang di Ubud, tak perlu menolak untuk ke sini. Duduklah di kursi taman dan rasakan selera terbaik sang Maestro, romantisme rennaisance, begitu dia menyebut. Selebihnya, biarkan aura museum menyempurkan perjalanan 'spiritual' Anda di Ubud, Gianyar, Bali, tempat museum ini digubah.

(Ari/anw)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads