"Apinya cepat sekali menyambar rumah-rumah. Salah satu anggota keluarga Gassing sedang memasak dengan kompor gas, gas meledak hingga ke lantai 2 rumah Gassing," ujar salah seorang warga, Jimmy Carter, kemarin.
Sebelumnya, masih di hari yang sama, ledakan tabung gas juga mencelakakan Sumiati (38), yang tengah hamil 4 bulan di rumahnya, Desa Kedung Winong, Kecamatan Bareng, Jombang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satu hari sebelumnya atau Sabtu (21/8), petaka juga tidak bisa dihindari warga di Jalan veteran RT 5 RW 8, Kelurahan Kebonpisang, Kecamatan Sumur Bandung. Akibat salah satu warga melempar tabung gas 3 kg ke dekat kompor yang menyala, puluhan rumah di wilayah itu terbakar.
Mundur satu hari lagi, Jumat (20/8), giliran pemilik warteg di Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat (Jakbar), yang kena petaka. Saat musibah terjadi, beberapa pembeli sedang makan di warteg, namun untungnya mereka selamat. Tinggal lah pemilik warteg yang dilarikan ke RS Tarakan karena luka bakar.
Dua hari sebelumnya, Rabu (18/8) Yatini (65) dan Chamami (30), terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka bakar parah gara-gara tabung gas, kali ini elpiji ukuran 12 kg, di dapur mereka meledak saat digunakan untuk memasak menjelang sahur.
Ketua Pelaksana Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, mengatakan, masih berlangsungnya ledakan tabung gas sampai saat ini menunjukkan gagalnya upaya pemerintah dalam mengantisipasi ledakan.
"Kami mengkritik keras, bahkan dalam pidato kenegaraan pemerintah tidak menyinggung ledakan elpiji sama sekali. Pemerintah tidak punya kepedulian untuk menyelesaikan teror tabung gas ini secara komprehensif," kata Tulus saat dihubungi detikcom.
YLKI, kata Tulus, juga meminta pemerintah segera menarik tabung gas 3 kg berserta komponen pendukungnya yang berada di pasaran.
(lrn/ddt)











































