Demikian sesal Ketua Komisi Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri, Bekti Nugroho, tentang tragedi di Tual, Maluku Tenggara. Hal ini disampaikannya kepada detikcom dalam pembicaraan telepon, Sabtu (21/8/2010).
"Kami mengutuk keras. Bagaimana mungkin jurnalis yang bekerja sah dan halal demi kepentingan masyarakat kok tega-teganya dianiaya hingga tewas," ujar dia.
Jurnalis televisi senior ini, menyatakan di sisi lain ada pelajaran penting yang dapat diambil dari tewasnya Ridwan Salamun. Pekerja pers agar lebih berhati-hati dalam melakukan peliputan di daerah atau dalam suasan konflik.
"Bagaimana pun keselamatan lebih utama," tegas Bekti.
Kasus ini juga harus ditanggapi perusahaan pers sebagai pelajaran meningkatkan pelatihan bagi para jurnalis, terutama yang bertugas di lokasi rawan bahaya. Termasuk memberi perlindungan semacam asuransi kesehatan dan jiwa bagi seluruh pekerja pers.
"Kepada kepolisian, agar segera mengusut serius kasus ini dan menangkap para pelakunya serta aktor intelektual di belakang pembunuhan ini," sambung Bekti.
(lh/van)











































