Jurnalis Kontributor di Daerah Perlu Perlindungan

Jurnalis TV Tewas Dikeroyok

Jurnalis Kontributor di Daerah Perlu Perlindungan

- detikNews
Sabtu, 21 Agu 2010 16:21 WIB
Jakarta - Kasus pengeroyokan dan pembunuhan yang menimpa Ridwan Salamun, kontributor televisi, menyadarkan pentingnya pelatihan dan perlindungan bagi jurnalis. Terutama bagi para kontributor di daerah yang kerap bekerja seorang diri.

"Meminta perusahaan pers untuk memberikan pelatihan meliput di lokasi berbahaya dan perlindungan yang memadai terhadap jurnalis yang mereka pekerjakan," demikian salah satu butir dalam surat pernyataan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) atas kasus yang menimpa salah seorang anggotanya di Tual, Maluku Tenggara.

Pernyataan disampaikan melalui surat elektronik, Sabtu (21/8/2010). Surat pernyataan sikap tersebut ditandangani oleh Ketua IJTI Imam Wahyudi dan Wasekjen IJTI Winarto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Winarto menegaskan, perusahaan media massa punya tanggung jawab memberi perlindungan terhadap seluruh pekerjanya. Tidak terkecuali perlindungan terhadap para pekerja berstatus kontributor dan bertugas jauh dari kantor pusatnya.

Salah satu perlindungan di antaranya adalah pelatihan peliputan di suasana konflik. Seperti posisi yang aman ketika melakukan peliputan, strategi, negoisasi dengan nara sumber dan kontak-kontak yang harus dilakukan pada saat terjadi masalah di lapangan.

"Sebab rekan-rekan kontributor ini berada jauh dari kantor pusat dan mereka berkerja sendiri. Berbeda dibanding teman-teman dari kantor pusat yang lalu ditugaskan ke daerah, mereka lebih terkoordinir" ujar dia.

Ini semua tidak lepas dari keterbatasan peralatan yang menjadi bekal para kontributor daerah. Bukan rahasia bahwa mereka hanya berbekal handycam yang tentunya secara teknis punya keterbatasan dalam merekam kejadian.

"Pakai handycam kan nggak bisa mengambil gambar dari jauh, sebab gambarnya akan buruk. Jadi mereka harus mendekat ke sumber kejadian, nah pada inilah yang rawan bagi keselamatan. Terkadang hal-hal teknis begini tidak terpikir bisa jadi bencana," sambung Winarto.

(lh/ken)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads