"Tidak ada (keterlibatan) TNI/Polri," tegas Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar kepada wartawan, Jumat (20/8/2010).
Boy mengatakan, para pelaku merupakan komplotan perampokan spesialis toko emas yang selama ini diincar polisi. Para pelaku sendiri diketahui telah melakukan 6 kali perampokan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pelaku pernah melakukan perampokan di kawasan Bogor sebanyak 2 kali, Depok, Bekasi dan Tangerang. Bahkan salah satu tersangka berinisial RP, kata Boy, adalah otak perampokan yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).
"RP adalah otaknya," katanya.
Boy menambahkan, senjata api yang digunakan para pelaku adalah senjata api rakitan yang diperoleh secara ilegal. Senjata itu, lanjutnya, didapatkan dari hasil penyelundupan.
"Senjata itu ilegal," tegasnya.
"Negara kita ini kan negara kepulauan. Ada 17 ribu pulau di negara kita. Senjata itu bisa diselundupkan dari mana saja melalui pulau-pulau," jelasnya.
Lebih jauh Boy mengatakan, perampokan toko emas di Tebet tidak berkaitan dengan aksi perampokan di Medan, Sumatera Utara. "Beda dengan Medan. Kelompok ini adalah spesialis perampok toko emas," ujarnya.
Perampokan toko emas di Pasar Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan terjadi pada Jumat (6/8) lalu. Saat itu, ada 14 pelaku yang menggunakan 7 motor.
7 Pelaku masuk dan menyebar ke 3 toko emas. Sementara sisanya menunggu di motor. Usai merampok, kawanan itu kabur sambil mengumbar tembakan.
(mei/irw)











































