"Justru kalau itu jadi dibangun akan semakin menambah kemacetan Ibukota," kata Slamet di kantornya, Gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (20/8/2010).
Alasannya, menurut dia, tol-tol yang dibangun itu letaknya di pinggiran Ibukota sehingga terkesan membuka pintu masuk bagi orang pinggiran untuk masuk ke dalam Jakarta sehingga Jakarta akan tambah macet. "Ini bukan solusi yang terbaik untuk mengatasi kemacetan," ujar dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, kata dia, sistem transportasi umum seharusnya dibenahi. "Buswaynya dibenahi. Lalu, 15 koridor itu dibuat semua. Selain itu, subway atau kereta bawah tanah dibuat," tutur Slamet.
"Harusnya ini dulu yang diterapkan. Kemudian kalau macet, baru dibikin tol dalam kota, bukan malah dibalik, dibikin tol tetapi transportasi umum malah ditinggalkan tidak jelas," lanjut dia.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo sebelumnya mengatakan pembangunan 6 ruas tol akan dimulai awal Tahun 2011.
Pembangunan 6 ruas tol tersebut akan menelan dana sebesar Rp 40 triliun lebih dengan rincian, Tol Semanan-Sunter sepanjang 17,8 km dengan anggaran Rp 9,7 triliun. Tol Sunter-Bekasi Raya sepanjang 11 km, anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp 7,3 triliun.
Tol Duri Pulo-Kampung Melayu sepanjang 11,3 km anggarannya Rp 5,9 triliun. Kemayoran-Kampung Melayu sepanjang 9,6 km dengan anggaran Rp 6,9 triliun.
Tol Ulujami-Tanah Abang sepanjang 8,27 Km dengan anggaran Rp 4,2 triliun. Dan Tol Pasar Minggu-Casablanca sepanjang 9,5 km dengan dana Rp 5,7 triliun.
(aan/nrl)










































