"Pengawasan di Polri dan intelijen tidak jalan, mandul. Ini karena masalah ekonomi yang berimplikasi pada hukum sehingga tidak jalan pengawasannya," kata penasihat Indonesian Police Watch (IPW) Jhonson Panjaitan kepada detikcom, Jumat (20/8/2010).
Menurut dia, maraknya senjata api di masyarakat dikarenakan pemikiran para kaum kelas menengah, profesional, dan pemerintah telah rusak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara untuk kaum kelas bawah, kata dia, senjata api banyak digunakan untuk mencari makan. Senjata api juga digunakan untuk membunuh lawan politik.
"Ini jadi meluas ke mana-mana dan sangat berbahaya karena mereka beraksi di tempat umum, terbuka, dan kelompok itu terdokumentasi sebab foto mereka beredar," ujar Jhonson.
Sebulan belakangan ini, sedikitnya 7 kasus perampokan terjadi dengan membawa senjata api. Kejadian terbaru di Bank CIMB Niaga Cabang Aksara, Medan, perampok bahkan membawa senjata organik TNI/Polri yaitu AK-47 dan M-16.
(aan/nrl)











































