Wanita berumur 26 tahun itu bekerja sebagai pelayan di salah satu restoran di Disneyland. Bebeberapa bulan lalu wanita itu bertanya pada atasannya apakah mereka akan mengizinkan dia mengenakan jilbab saat bekerja sebagai pelayan. Namun tak ada jawaban dari atasannya.
Boudlal pun kemudian memutuskan memakai jilbab. Demikian disampaikan juru bicara serikat pekerja UNITE HERE Local 11.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Disney lebih jauh menasihati Boudlal bahwa jika dia menolak melepas jilbabnya, dia bisa bekerja di bagian belakang di mana para pelanggan tak akan melihat dia, atau pulang ke rumah," imbuh Shelton.
Boudlal menolak untuk kompromi. Wanita itu memutuskan untuk menuntut Disney ke Komisi Kesetaraan Pekerja AS, badan federal yang menangani klaim-klaim diskriminasi di tempat kerja.
"Tawaran mereka untuk menaruh saya di belakang itu menghina," ujar Boudlal dalam pernyataannya. "Mereka bilang karena saya Arab, karena saya orang Maroko, karena saya muslim, mereka tak ingin melihat saya di depan," cetusnya.
Lembaga Dewan Hubungan Amerika-Islam setempat telah mengirimkan surat pernyataan ke Disney yang menuntut agar perusahaan itu mengakomodasi permintaan Boudlal untuk tetap mengenakan jilbab.
"Tak ada justifikasi atas penolakan Disney mengizinkan Boudlal memakai jilbabnya saat bekerja," tegas Ameena Mirza Qazi, wakil direktur eksekutif organisasi tersebut.
(ita/nrl)











































