"Beberapa waktu lalu, saya menyimak program kalau tidak salah di BBC Knowlegde atau History mengenai sejarah PD. Menarik sekali," kata Boediono saat memberikan pembekalan untuk peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) XLIV Lemhanas di Kantor Wakil Presiden, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (19/8/2010).
Menurut Boediono, salah satu kesimpulan umum dari tayang PD II itu adalah bahwa Amerika Serikat (AS) dapat memenangkan peperangan karena kekuatan ekonomi dan industrinya. Faktor itu tidak disadari oleh lawan-lawan AS pada waktu itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, guru besar UGM ini tidak percaya begitu saja terhadap kesimpulan bahwa kekuatan industri teknologi merupakan penentu utama setiap peperangan. Ia lantas membaca-baca sejarah perang lain, yakni perang Vietnam, yang mencapai puncak pada tahun 1968.
Rupanya, superioritas teknologi tidak berlaku dalam perang Vietnam. Menang tidaknya negara yang bertikai dalam peperangan tersebut lebih ditentukan oleh kuatnya organisasi sosial masyarakatnya.
Boediono lantas membandingkan kedua perang itu dengan revolusi yang terjadi di Indonesia. Selain organisasi sosial dan perang, Indonesia dapat lepas dari penjajahan karena lihai dalam berdiplomasi. Namun, dukungan masyakat tetap menjadi faktor yang menentukan.
"Memang ada kombinasi antara perang dan diplomasi dan lain-lain. Tapi intinya organisasi kita baik untuk tujuan diplomasi, baik untuk tujuan mobilisasi kemampuan seluruh 0enduduk kita untuk mendukung perang itu ternata itu yang menentukan," katanya.
(irw/mad)











































