"Kejanggalannya sudah terlalu banyak. Ketidakjelasan bukti rekaman itu juga tragedi rekayasa besar sebagai musibah bangsa kita," keluh Fachri kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (19/8/2010).
Fachri mencurigai Polri sedang mencoba mengalihkan alur kasus tersebut. Dengan demikian sejumlah Pejabat Polri yang disinyalir terlibat akan melenggang bebas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Fachri, pergantian Kapolri menjadi penting saat ini. Kasus Anggodo dinilai telah menjawab bahwa Kapolri telah gagal menghadapi mafia di internal Polri.
"Kalau negara ini sudah kalah dengan mafia ya lempar handuk lah, jangan tetap melawan. Tapi jangan ganti Kapolri secara sederhana, ganti secara radikal, kami menolak kalau calonnya cuma satu," tegas Fachri.
Fachri berharap Presiden SBY jeli melihat persoalan ini. Sebagai Kepala Negara, SBY berhak mengambil sikap tegas terhadap institusi Polri.
"Presiden harus awasi semua jangan berhenti, semua kasus hukum harus dipantau. Karena Polri sudah terlalu jauh menipu publik, dan dunia penegakan hukum kita penuh dengan mal praktek, rekayasa, dan kepentingan pribadi," tutupnya.
(van/mad)










































