Adrianus: Komplotan Perampok Pakai Taktik Cepat Masuk & Cepat Keluar

Adrianus: Komplotan Perampok Pakai Taktik Cepat Masuk & Cepat Keluar

- detikNews
Kamis, 19 Agu 2010 10:19 WIB
Jakarta - Gerombolan perampok lebih 10 orang dan bersenpi marak beraksi di siang bolong. Ini merupakan taktik "cepat masuk dan cepat keluar". Mereka juga memanfaatkan keterkejutan korban untuk memuluskan aksinya.

"Perampokan selalu berlangsung di tempat-tempat yang tidak kita duga. Taktik perampokan yang dipakai quick to get in, quick to get out. Cepat masuk, cepat keluar," kata kriminolog UI, Andrianus Meliala, kepada detikcom, Kamis (19/8/2010).

Dalam bulan ini, terjadi perampokan menghebohkan yang menerapkan trik itu yaitu perampokan 3 toko emas di Pasar Bukit Duri, Tebet, pada 6 Agustus. Pelakunya sekitar 12 orang. Perampokan kedua menimpa Bank CIMB Niaga di Medan yang dilakukan lebih 10 orang pada 18 Agustus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adrianus menuturkan, taktik 'cepat masuk' bisa dicapai dengan senjata api, kekerasan, melumpuhkan sistem pengamanan dan segera mengambil benda yang dicari. Perampok kemudian segera keluar.

"Jadi untuk dapatkan cepat masuk cepat keluar, perampok menggunakan  senjata api, kekerasan," ujar dia.

Selain itu, kata Andrianus, salah satu situasi yang disukai perampok adalah pendadakan dan tidak terduga.

"Perampok mencari tempat yang beroperasi, ada kegiatan. Alhasil, ketika beraksi saat orang sibuk. Itu kenyataannya. Perampok tidak beraksi di malam hari karena misalnya, toko emas kalau malam hari kan sudah tutup. Berbeda dengan maling yang mengendap-endap di malam hari," papar dia.

Menurut Adrianus, kerumunan orang bukan hal yang menyulitkan bagi perampok. "Karena mereka punya senjata dan kecepatan cepat masuk, cepat keluar. Semua dilakukan penuh perhitungan," kata Andrianus.

Dijelaskan dia, efek psikologi kelompok juga dimanfaatkan oleh perampok. Keramaian masyarakat tidak membuat 'jiper' perampok.

"Walau ada 10 orang yang melihat perampokan, tidak berarti 10 orang itu mau menolong. Mereka akan saling tunjuk, jangan saya, you saja. Alhasil tidak ada orang yang menolong karena ketakutan ditodong senjata. Inilah yang dimanfaatkan pelaku melaksanakan aksinya," beber penasihat Kapolri periode 2000-2006 ini.

Namun, efek psikologi kelompok ada batasnya. "Jika masyarakat mulai sadar, tenang, dan ada orang yang berteriak 'rampok' maka perampok langsung lari," ujar Andrianus.

Andrianus berpendapat terlalu dini menganalisa motif perampokan 'berjamaah' itu. "Motifnya tergantung bisa politik, bisa ekonomi, dan bisa mengacaukan suasana," katanya.

(aan/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini