Diungkapkan oleh seorang saksi bernama Tya, kejadian itu terjadi sekitar pukul 20.50 WIB. "Waktu itu, busnya nggak terlalu padat," kata Tya kepada detikcom, Rabu (18/7/2010).
Pria yang diperkirakan berusia sekitar 50 tahun itu berdiri di belakang pemuda. Posisi mereka berdua saat itu berada di depan pintu bus Tranjakarta.
Awalnya tidak ada yang menduga bahwa pria bertubuh sedang itu sebagai pencopet. Dandanannya persis seorang karyawan, tidak tampak seperti penjahat yang bermuka sangar.
"Nggak nyangka kalau dia copet. Dari kemeja, celana, sepatu sama tasnya, rapi. Kayak karyawan aja," ujar Tya.
Pria itu baru diketahui sebagai pencopet setelah bus berhenti di Halte Dukuh Atas. Semua penumpang turun.
Namun, si Pencopet yang tidak diketahui namanya itu justru malah diam. Dia justru turun saat bus Transjakarta kembali melaju setelah mengangkut penumpang dari Halte Dukuh Atas.
Kecerobohannya itu membuatnya terjatuh sehingga terperosok ke sela-sela antara bus Transjakarta dan tepian halte. Bus pun seketika berhenti. Petugas keamananan bus Transjakarta pun menolong sambil memarahinya.
"Bapak kenapa baru turun sekarang. Tadi pas bus berhenti, kenapa nggak turun. Jadinya kan jatuh," kata Tya menirukan petugas itu.
Kepada petugas, pria itu beralasan tidak memperhatikan halte. "Saya nggak merhatiin," ujar Tya menirukan lagi.
Di saat yang bersamaan, pemuda yang berdiri di depan si Bapak ini membuat gaduh. Dia ribut karena handphonenya telah hilang.
"Pemuda itu nyari-nyari handphonennya yang ada si saku celananya," ujarnya.
Setelah menolong si Bapak yang terjatuh tadi, handphone pemuda itu pun ditemukan. Rupanya, handphone itu jatuh tepat di tempat si Pencopet itu terjatuh.
"Tapi pencopet itu mengelak, dia bilang, kan bukan saya saja yang keluar dari bus," katanya.
Namun petugas tidak mempercayai alibi pria itu. Pria itu kemudian diamankan oleh petugas keamanan Transjakarta.
(mei/rdf)











































