Sejak 125 tahun lalu, komunitas internasional telah menyepakati Greenwich sebagai wilayah yang dijadikan ukuran awal waktu dunia, karena disepakati sebagai titik nol derajat garis bujur.
Apa yang terjadi jika nol derajat garis bujur pindah ke Makkah?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu dikatakan Thomas saat berbincang denngan detikcom, Jumat (13/8/2010).
Thomas memaparkan, penentuan garis bujur yang titik nolnya di Greenwich merupakan konvensi internasional. Dari situ kemudian dunia ini dibagi 360 garis bujur dan menjadi rujukan penentuan waktu dunia.
Kalau garis bujur nol itu bergeser, maka sistem waktu, penanggalan dan hari juga bergeser.
"Kalau mirip GMT, berpotensi hari dan tanggal akan bergeser menuju wilayah yang kemungkinan tidak seperti garis tanggal internasional. Wilayah yang terpotong garis tanggal (tepat 180 derajat garis bujur) adalah wilayah lautan bukan daratan, bukan wilayah berpenduduk," jelas Thomas.
Pemerintah Arab Saudi sedang merampungkan proyek ambisius untuk menggeser Greenwich Mean Time (GMT) sebagai pusat waktu dunia. Sebuah menara jam raksasa yang lima kali lebih besar dari Big Ben di London sedang dibangun di kota Makkah.
Menara jam ini berbentuk kubus empat sisi. Diameter jam mencapai 40 meter, mengalahkan jam terbesar sebelumnya yang menjadi atap Cevahir Mall di Turki dengan diameter 35 meter.
Waktu yang digunakan oleh jam tersebut adalah Arabia Standard Time, tiga jam lebih dulu jika dibandingkan dengan GMT (GMT+3).
Bagi Arab Saudi, Makkah dianggap lebih tepat sebagai episentrum dunia. Kota suci umat muslim tersebut diklaim sebagai wilayah tanpa kekuatan magnetik oleh peneliti Mesir seperti Abdel-Baset al-Sayyed.
"Itulah mengapa ketika seseorang berpergian ke Makkah atau tinggal di sana, mereka tinggal lebih lama dan lebih sehat karena hidupnya lebih sedikit dipengaruhi oleh gravitasi," jelas al-Sayyed.
(nwk/nrl)











































