"Saya kenal mereka, saya bekerja dengan mereka di Adeise, Adshit, maksud saya di pos mereka. Saya tanya mereka, ke mana mereka ingin saya antar. Kalau Adeise, saya tidak bisa karena di sana sedang terjadi perang. Saya bisa antar kamu ke markas, dan mereka setuju, saya bawa dan antar mereka ke markasnya," kata Ismael.
Kesaksian ini disampaikan Ismael dalam video yang diterima detikcom dari Satgas KONGA 23D/UNIFIL, Kamis (12/8/2010). Video itu berdurasi 1 menit 31 detik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ismael mengaku bertemu kedua prajurit TNI itu di Fatima Gate. Ismael melihat keduanya membutuhkan pertolongan setelah mengalami hari yang buruk.
"Saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan, dan saya ingin membantu mereka. Andai saja saya tidak bisa mengantar mereka ke markasnya, mungkin saya akan membawa mereka ke rumah saya, dan menolong mereka dan memberikan bantuan yang mereka butuhkan. Mereka juga muslim seperti saya, kalaupun mereka bukan muslim, sudah menjadi tugas saya untuk menolongnya," kata pria berkumis ini.
Ismael juga tidak setuju jika keduanya disebut-sebut melarikan diri dari pertempuran. Menurutnya, keduanya terpaksa berlindung dan mundur karena memang kondisi di tempat pertempuran sudah sangat parah. Sementara mereka tidak bisa membalas tembakan.
"Tidak, mereka melaksanakan pengunduran karena mereka tidak memiliki perintah untuk membalas tembakan," katanya.
Sebelumnya, televisi Hizbullah, Al Manar, menyebut dua prajurit TNI itu meninggalkan lokasi pertempuran Israel dan Libanon dengan menumpang taksi. Tayangan ini menimbulkan kecaman dari media Libanon. Mereka mengejek UNIFIL karena tidak bisa mencegah pertempuran. Kontak senjata itu menewaskan 4-5 orang.
Namun pihak UNIFIL membantah tudingan miring itu. Dua prajurit itu justru telah berusaha sekuat tenaga untuk melerai dan mencegah kontak senjata. Keduanya pun mendapat penghargaan dari Komandan Sektor Timur UNIFIL, atas jasa-jasa mereka.
(ken/nrl)











































