Direktur YPHS, Bastoni, mengatakan metode diawali dengan membuat kandang satwa mangsa dengan ukuran 50 x 50 meter. Kandang itu diletakan di kawasan hutan penyanggah konservasi harimau sumatera, Senepis, di Kota Dumai, Riau.
Kandang tersebut dikeliling kawat setinggi 150 cm. Di dalamnya akan dilepas satwa babi yang menjadi santapan harimau. Diharapkan hal ini akan memancing datangnya harimau sumatera yang saat ini banyak berkeliaran di luar hutan konservasi Senepis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Bastoni, selama ini harimau di luar konservasi sering konflik dengan manusia. Harimau sumatera memangsa ternak-ternak milik masyarakat. Karena itu metode ini akan memancing harimau untuk masuk dalam kandang yang telah tersedia babi.
"Bila ada harimau yang masuk dalam kandang yang telah kita sediakan, berarti hal itu bisa mengurangi konflik yang selama ini terjadi. Tahap awal kandang ini hanya sebagai pakan harimau saja guna menghindari konflik kepemukiman masyarakat. Harimauย nantinya juga bisa keluar sendiri dari kandang tersebut," kata Bastoni.
Bila metode ini nantinya berhasil, maka pihak YPHS akan menambah kandang lagi dengan ukuran raksasa di atas lahan 3 hektar. Untuk membangun kandang seperti itu akan membutuhkan dana awal sekitar Rp1 miliar. Metode ini akan menyelamatkan harimau cacat akibat konflik dengan manusia. Diharapkan dengan membangun lokasi yang lebih besar lagi, akan membangun populasi harimau sumatera di Riau.
"Metode ini memang dianggap gila oleh NGO lainnya. Tapi saya yakin, motode pertama kali di dunia ini ini akan berhasil menambah populasi harimau di Riau. Selama ini banyak NGO bidang harimau hanya melakukan riset dan pengumpulan data. Mereka tidak pernah memikirkan bagaimana menambah populasi harimau. Padahal dengan berbagai macam konflik yang ada, tingkat kepunahan harimau sumatera lebih laju ketimbang tingkat regenerasinya," kata Bastoni.
Ditambahkan Bastoni, selama ini penyelesaian konflik dengan cara harimau dievakuasi ke Taman Safari Indonesia (TSI). Tercatat sejak tahun 2003 sekitar 8 ekor harimau dibawa ke sana. Bila merujuk masa reproduksi harimau sumatera, maka pada tahun 2010 ini semestinya populasinya sudah bertambah di TSI.
"Sampai sekarang kita tidak pernah tahu adanya penambahan generasi harimau taman safari. Itu menunjukan bahwa pemerintah sendiri gagal dalam meningkatkan populasi harimau sumatera di sejumlah kebun binatang termasuk Taman Safari," kata Bastoni.
(djo/djo)











































