Korban merupakan warga Kecamatan Rimbo Melintang, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau. Kondisnya sangat mengenaskan, dengan luka cukup parah di bagian leher.
"Korban tewas di tempat. Saat kejadian dia sedang bersama bapaknya, tapi bapaknya selamat," kata Kepala Seksi III Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Hutomo kepada detikcom, Selasa (10/08/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rasa khawatir orang tua tersebut semakin menjadi saat menemukan bercak dari di jalan menuju kebun karet. Dan dia kaget bukan kepalang saat mengetahui anaknya ternyata diterkam harimau.
"Setelah diusir harimaunya lantas pergi," kata Hutomo.
Menurut Hutomo, lokasi kejadian merupakan wilayah jelajah harimau sumatera. Saat ini pihaknya telah menurunkan tim untuk memantau kondisi di lapangan.
"Kita belum bisa menentukan sikap apa yang harus dilakukan. Paling kita hanya memantau situasi saja," kata Hutomo.
Sementara itu Ketua Yayasan Pelestarian Harimau Sumatera (YPHS) Bastoni mengatakan konflik antara harimau dengan manusia merupakan imbas dari hancurnya kawasan hutan. Catatan YPHS dalam tahun 2010 ini sudah terjadi dua kali konflik antara manusia dan harimau.
Dikatakan Bastoni, kondisi ini disebabkan banyak hal. Selain soal habitat harimau yang terus menyempit, banyak kearifan lokal yang dilanggar masyarakat sendiri. Misalanya tidak boleh sesumbar dan harus bersih diri jika masuk ke dalam hutan.
"Kearifan lokal itu bagi orang kota mungkin tidak masuk akal. Tapi faktanya biasanya korban konflik melanggar kearifan lokal tersebut," kata Bastomi.
Dia mengambil contoh, kasus tewasnya Tulus pada tahun 2004. Ternyata dia pelaku illegal logging. Menurut rekan-rekan sekerjanya, sebelum masuk hutan Tulus juga sesumbar tidak takut bertemu dengan harimau.
(djo/djo)











































