"Jadi ini problemnya ketinggian bulan kurang dari 3 derajat. Kalau mengharuskan wujudul hilal (bulan terlihat), maka akan memutuskan Rabu besok awal Ramadan," kata peneliti utama Astronomi-Astrofisika LAPAN Thomas Djamaluddin saat dihubungi detikcom, Selasa (10/8/2010).
Tapi, karena ada juga ulama yang mengharuskan bukti rukyat (melihat) bulan secara langsung, maka mau tak mau harus tampak bulan terlebih dahulu untuk menentukan awal Ramadan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, biasanya untuk mengatasi masalah ini, para ulama biasanya berpendapat agar digenapkan bulan sya'ban menjadi 30 hari.
"Kemungkinan akan menimbulkan pendapat bulan Syaban digenapkan 30 hari. Berarti awal Ramadan 12 Agustus," imbuhnya.
Putusan akhirnya apakah awal Ramadan 11 atau 12 Agustus baru akan diputuskan nanti sore setelah sidang itsbat. "Tunggu saja sidang itsbat, karena dalam sidang tersebut banyak masukan dari para ulama, pakar astronomi dan ilmu falakh," ujarnya.
Tapi, menurut Thomas, kemungkinan besar awal Ramadan akan mengarah ke tanggal 11 Agustus.
"Karena pada dasarnya ketinggian bulan meski masih rendah, tapi tetap pada kriteria yang dipakai di Indonesia, ada kemungkinan itu bisa jadi dasar untuk memutuskan awal Ramadan tanggal 11 Agustus. Tetapi tetap keputusan akhirnya pada Menag setelah mendengar berbagai pendapat," urainya. (anw/nrl)











































