"Kami mengecam keras tindakan polisi dalam menangkap ayah kami. Beliau bukan DPO, mengapa harus ditangkap di jalan. Mengapa tidak menunggu dulu sampai di rumah, agar polisi lebih terlihat beradab dan berakhlaq. Kejadian seperti ini yang akan semakin menghilangkan wibawa polisi institusi resmi negara," ujar Iim, panggilan akrab Abdurrochim kepada wartawan di Solo, Senin (9/8/2010).
Iim juga mengkhawatirkan kondisi ibunya, Aisyah Baradja atau juga sering dipanggil Umi Aisyah Ba'asyir, yang hingga saat ini belum bisa dihubungi dan diketahui keberadaannya. Yang semakin membuat dia dan keluarga panik adalah hingga saat ini polisi juga tidak memberitahukan secara resmi tentang penangkapan Ba'asyir dan keberadaan orang-orang lainnya yang berada satu mobil dengan Ba'syir saat ditangkap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mengkhawatirkan kondisi umi (ibu -red). Beliau sudah tua, sudah tidak bisa berjalan jauh. Kondisi fisik beliau saat ini sudah sering sakit-sakitan dan mudah kelelahan karena kondisi gula darahnya serta penyakit-penyakit lainnya," ujar Iim sambil berurai air mata. Bahkan Iim sempat terisak dan terdiam dan tak bisa berkata-kata cukup lama setelahnya.
Selanjutnya dia menambahkan, tidak biasanya ibundanya mengikuti pengajian Ba'syir di luar kota. Baru pada kesempatan kali ini Aisyah turut serta karena sekalian mendatangi acara keluarga di Bandung untuk bertemu saudara-saudaranya.
Dia juga menambahkan kondisi kesehatan Ba'asyir juga tidak cukup baik. Dalam beberapa hari terakhir ayahnya mengeluhkan sakit mag. Bahkan sebelum berangkat ke Jawa Barat, Ba'asyir meluangkan beberapa hari beristirahat karena kondisi lambungnya itu.
"Kami besok akan ke Mabes Polri untuk mendesak pembebasan kedua orangtua kami. Selanjutnya proses hukum yang terkait keduanya akan kami serahkan kepada TPM. Sedangkan perawatan kesehatan keduanya akan kami serahkan kepada MerC. Hanya kepada mereka kami mempercayakan urusan ini," ujar Iim.
(djo/djo)











































