"Penghargaan Achmad Bakrie ibarat kopi luwak. Sesuatu yang halal untuk peneliti, penulis, dan sebagainya meski diberikan oleh musang. Dan musang dikenal suka menyantap ayam penduduk," kata Asvi.
Pernyataan tersebut dikatakannya usai Silaturahmi Kebangsaan 'Kenapa 17
Agustus?', di Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu
(8/8/2010) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengimbau, pihak penyelenggara penghargaan meminta maaf kepada mereka yang namanya dicantumkan meski akhirnya penerima tersebut menolak penghargaan. "Ini saat yang tepat menjelang Ramadan, Aburizal Bakrie harus meminta maaf kepada tiga nama yang menolak penghargaan. Kalau orang tidak mau, kenapa harus dipaksa dicantumkan," tegasnya.
"Kasus Lapindo harus diselesaikan dulu daripada memberikan award," imbuh Asvi.
Sejumlah tokoh menolak diberi penghargaan tersebut antara lain ahli filsafat
Frans Magnis Suseno dan baru-baru ini mantan Menteri Pendidikan Daoed Jusuf.
Beberapa bulan lalu, Goenawan Mohammad bahkan mengembalikan penghargaan tersebut setelah 6 tahun diterimanya.
(ahy/ape)











































