Indonesia Butuh Problem Solver Seperti JK

Indonesia Butuh Problem Solver Seperti JK

- detikNews
Sabtu, 07 Agu 2010 21:34 WIB
Padang - Meski tak lagi berada di tampuk kekuasaan, pesona Jusuf Kalla (JK) sepertinya masih memikat banyak orang. Di tengah maraknya krisis kepercayaan dan problem kenegaraan yang kini dihadapi, sosok JK sebagai ‘problem solver’ kembali dirindukan berbagai kalangan.

Hal itu terungkap dalam Acara Diskusi dan Pemutaran Film “Mereka Bicara JK” yang digagas National Press Club of Indonesia (NPCI) bekerjasama dengan Fakultas Sastra Universitas Andalas di Gedung Genta Budaya, jalan Diponegoro Padang, Sabtu (7/8/2010). Pengamat politik Andrinof Chaniago tampil sebagai pemancing diskusi dalam acara tersebut.

"Kata kunci yang paling pas untuk menggambarkan sosok Jusuf Kalla adalah pribadi yang easy going dan mampu tampil sebagai problem solver terhadap berbagai masalah bangsa secara tepat dan cepat, bahkan hampir tanpa tandingan," ujar Andrinof.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakan Andrinof, selama menjadi wakil presiden RI, JK telah menunjukkan karakter kepemimpinan yang khas, berani mengambil resiko tanpa harus terlalu banyak silaturahmi, rapat, membuat tim, dan melakukan perencanaan. Sikap seperti itu, menurut Andrinof, diperlukan agar bangsa ini bisa bergerak cepat menyelesaikan berbagai permasalahan.

"Meski demikian, dalam pandangan saya JK bukanlah pemimpin yang visioner dan perencana, sesuatu yang justru dikuasai dengan baik oleh Presiden SBY. Itulah sebabnya saya sangat sedih ketika mengetahui SBY-JK harus berpisah pada Pilpres lalu. Karakter kepemimpinan SBY-JK bagi saya cocok dan saling melengkapi," tuturnya.

Sejarawan Universitas Negeri Padang, Mestika Zed, yang hadir sebagai peserta diskusi menanggapi, kemampuan JK untuk tanggap tampil sebagai problem solver tak jarang justru menempatkannya sebagai problem maker. Setidaknya dari sudut pandang politik.

Presiden NPCI Imelda Sari mengatakan, penerbitan buku “Mereka Bicara JK” yang ditindaklanjuti dengan acara Diskusi dan Pemutaran Film itu merupakan upaya untuk membangun tradisi mengapresiasi akhir masa tugas seorang pemimpin di negeri ini. Sekaligus ingin menguji apakah masih ada orang yang tentang hubungannya , kedekatannya, atau pengalamannya bersama JK, disaat yang bersangkutan tidak lagi akan menjabat.  

(djo/djo)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads