Dengan senang hati dan tanpa ragu-ragu, Boediono bangkit dari tempat duduknya saat diminta untuk naik ke atas panggung. Ia menjawab desakan agar ikut menyumbangkan suara di acara sarasehan Wapres dengan wartawan, Jumat (6/8/2010), itu.
Ibu Herawati Boediono didampingi putra pertamanya, Dios Kurniawan, hadir di acara yang digelar di halaman belakang istana. Tidak lupa para deputi setwapres serta para pegawai di lingkungan kantor Wapres juga datang. Acara berlangsung santai dan seluruh hadirin terlihat menikmati suasana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
hadirin saling menatap bingung. Bayangkan saja, ia ingin menyanyikan sebuah lagu zaman Jepang.
Meski pada masa itu sangat populer, namun lagu tersebut tentu belum dikenal oleh wartawan yang rata-rata masih berusia muda.
"Ini satu-satunya lagu yang saya bisa selain Indonesia Raya," canda mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) itu yang mengundang tawa renyah hadirin.
Sedikit memberikan prolog, Boediono bercerita, lagu yang segera mengalun itu tercipta pada tahun 1943, saat bangsa berkulit kuning melakukan pendudukan di tanah air. Tanpa menyebutkan judulnya, ia mengatakan, lagu berirama keroncong tersebut berisikan tentang pengkhianatan cinta.
"Tapi sebenarnya ini adalah protes sosial pada zaman pendudukan Jepang itu. Tentang pengkhianatan oleh saudara tua," jelas pria berkemeja batik biru ini.
Sebelum mulai bersenandung, Boediono mendekat ke pemain organ tunggal yang berada di belakang. Lalu irama pun segera terdengar dan ia tampak berusaha menyesuaikan suaranya. Sayang, mungkin karena belum pernah berlatih mengiringi lagu jadul tersebut, pemain organ itu tidak bisa melanjutkan permainan.
"Setangkai bunga mawar merah... Maaf, maaf, maaf. Nggak ada, ya?" tanya Boediono.
Tahu lagu pertamanya sulit dimainkan, Boediono lantas mengganti dengan lagu lain, yakni "The Autumn Leaves" garapan Roger Williams. Kali ini si pemain organ agaknya sudah mahir memainkan. Sebagian wartawan yang ngeh dengan lagu tersebut langsung memberi tepuk tangan permulaan.
Boediono membawakan lagu romantis tersebut dengan cukup apik. Suaranya berat, namun pas dengan tinggi rendahnya nada. Selain tidak sekalipun meleset, guru besar ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu masih hafal betul tiap lirik lagu kesukaannya.
Meski dari pagi jadwalnya sangat padat, namun malam itu kakek 5 cucu yang kini berusia 67 tahun ini tidak tampak letih sedikit pun dan masih bersemangat untuk bernyanyi. Bahkan, di tengah-tengah lagu, ia mendapuk staf wapres bidang politik, Frida, untuk berduet.
Suasana pun bertambah hangat. Beberapa hadirin yang kenal dengan lagu itu ikut bernyanyi. Ibu Boediono tak henti-hentinya tersenyum melihat penampilan sang suami.
Since you went away the days grow long
And soon I'll hear old winter's song
But I miss you most of all my darling
When autumn leaves start to fall
Penampilan Boediono sekaligus menutup sesi makam malam dan hiburan dari seluruh rangkaian acara silaturahmi Wapres dan wartawan di Istana Bogor. Hari ini, Sabtu (7/8/2010), acara akan dilanjutkan dengan jalan pagi mengelilingi kompleks istana serta ramah tamah pada siang hari nanti.
(irw/lrn)










































