Demikian disampaikan staf khusus (stafsus) Presiden, Andi Arief, kepada detikcom, Jumat (6/8/2010).
Dikatakan Andi, sikap dan kritik dari PDIP yang bukan hanya berguna bagi pemerintah, tapi juga untuk rakyat banyak, sudah lama dinantikan. Tapi penantian itu tak kunjung datang. Bahkan, lanjut Andi, partai berlambang banteng moncong putih ini semakin emosional dengan konsep oposisi yang makin tidak terarah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Andi, berkali-kali dalam berbagai kesempatan Megawati dan pimpinan PDIP lainnya menyia-nyiakan momentum untuk memberi jalan keluar bagi persoalan-persoalan yang sedang dihadapi rakyat. Rakyat hanya mendapatkan tontonan gratis bagaimana sebuah pemerintahan yang sedang bekerja diganggu dengan lontaran emosional.
"Program tiga kluster untuk rakyat tidak mampu dikritisi dan dicari pembandingnya dengan yang lebih baik. Saya menduga, PDIP sudah kehilangan cara untuk mengkritisi pemerintahan dengan laju perkembangan ekonomi dan politik yang makin membaik," ungkap Andi.
Bangsa Indonesia, sambung Andi, membutuhkan terobosan pemikiran, membutuh sinergi yang mumpuni di tengah kerja konsolidasi nasional dan demokrasi, dimana PDIP berada di dalamnya. Pemilu legislatif dan Pemilu Presiden belum lama berakhir, seharusnya rakyat dipulihkan dulu situasi psikologisnya akibat perbedaan dalam Pemilu.
"Bukan malah berupaya menajamkan perbedaannya. Dari hati yang paling dalam, saya tidak menginginkan PDIP menjadi beban dalam era transisi ini," tegas Andi.
(djo/anw)











































