Nyanyi Sunyi Banda Naira

Sail Banda 2010

Nyanyi Sunyi Banda Naira

- detikNews
Rabu, 04 Agu 2010 05:37 WIB
Nyanyi Sunyi Banda Naira
Banda Naira - Awalnya adalah kegembiraan. Masyarakat Banda tidak menyangka pulau cantik itu akan menjadi ikon tahunan pariwisata bahari, Sail Banda 2010.

Saat diumumkan, warga Banda merasa yakin, pilihan itu tidak salah. Sebab, pulau Banda menyimpan pemandangan bawah laut terindah dan layak disejajarkan dengan 'surga' lain seperti Raja Ampat, Wakatobi, Gili dan Bunaken.

"Semua turis asing selalu ke sini untuk menyelam, mengagumi keindahan bawah laut. Di rumah warga yag disulap menjadi hotel mereka menginap. Saat diumumkan menjadi lokasi Sail, kami senang," ucap salah satu warga Banda, Helmi Baadilah saat berbincang dengan detikcom, Selasa (3/8/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menyusuri pulau Banda merupakan romantika sendiri. Wisatawan seperti ditarik mundur satu abad lalu. Bangunan peninggalan kolonial masih berdiri tegak, benteng Belgica tetap angkuh terlihat, sejumlah loji dan rumah berarsitektur lama tetap utuh seperti aslinya. Juga rumah pengasingan  Sjahrir dan Bung Hatta semasa perang kemerdekaan yang masih terjaga, seperti menawarkan waktu untuk berhenti sejenak.

"Di sini tidak ribut, sepi dan ramah tidak seperti di Jakarta. Coba kalau ada penerbangan langsung dari Ausralia-Banda," kata Agnes, salah satu turis Australia menceritakan kesannya selama di Banda pada saat hampir bersamaan.

Sayang, isolasi pulau tersebut membuat Banda seperti perawan cantik yang berada di kesunyian. Angkutan kapal dari Ambon-Banda hanya 2 kali seminggu.

Sementara penerbangan perintis 2 minggu satu kali. Listrik diperoleh dari bantuan genset pemerintah, sementara pompa bensin masih nihil. Tidak ada kehidupan malam, bar atau karaoke apalagi hotel berbintang.

"Saat diumumkan akan dijadikan lokasil Sail, kami dijanjikan dapat spring bed nyaman, AC dan tenda buat berdagang. Tapi itu omong kosong. Jangankan itu dipenuhi, lokasinya saja tidak di sini, di Ambon. Ini Sail Ambon bukan Sail Banda," imbuh Helmi.

Bagi warga Banda, mengimpikan Sail Banda berarti dapat promosi gratis tidak hanya nama semata. Melainkan perkara nyata merubah peta pariwisata menjadi makin subur. Minimal, kata warga, Banda kecipratan hajatan yang menelan duit Rp 160 miliar itu.

"Kami kecewa. Ini Sail Banda tetapi kok di Ambon. Tidak satu sen pun mengucur ke kami. Jarak keduanya 8 jam perjalanan laut," tukas Helmi yang diamini warga lain, Jufri saat bertatap muka dengan Menko Kesra Agung Laksono.

Jadilah Banda kembali ke kesunyian. Tidak ada gegap gempita festival tahunan itu. Kalaupun ada, terdengar sepoi-sepoi oleh even-even figuran. Dan warga Banda pun harus puas gigit jari tidak melihat kemeriahan festival perahu layar (sail) di gugusan pulau terindah di Maluku itu.

(Ari/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads