"Presiden SBY yang terpilih satu putaran seharusnya cepat, tegas, dan berani mengambil keputusan. Namun alih-alih lebih cepat, tegas, dan berani, Presiden SBY justru acap kali lepas tanggungjawab," ujar Pengamat Politik LIPI Syamsudin Haris.
Syamsudin menyampaikan hal ini dalam Seminar Nasional Sehari 'Membangun Rumah Indonesia, Memihak Bangsa Sendiri' di kantor LIPI, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (3/8/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tatkala kuat sinyalemen publik adanya mafia hakum dibalik kekisruhan hukum di tanah air, Presiden juga hanya membentuk Satgas yang bersifat ad hoc dan tidak mempunyai otoritas maksimum menyelesaikan kasus ini," terang Syamsuddin.
Kurangnya ketegasan SBY inilah yang dianggap Syamsudin memicu konflik di masyarakat. Masyarakat yang tidak yakin dengan ketegasan Pemerintah pun memilih jalur alternatif untuk menyelesaikan masalah.
"Dalam situasi demikian maka tidak heran apabila pemaksaan kehendak, premanisme, dan anarki menjadi satu-satunya pilihan bagi rakyat yang tidak percaya kepada wakilnya di Parlemen, kepada penagakan hukum, pemerintah, dan negara," terang Syamsudin.
(van/yid)










































