Dia bernama Agnes. Dia sangat terkenal di Banda Naira, karena sering tinggal di pulau penghasil pala terbaik di dunia ini dalam waktu lama. "Halo Oma Agnes," sapa salah seorang warga Banda Naira kepada Agnes ketika bertemu di sebuah jalan. Agnes pun menjawab sapaan itu dengan sangat akrab dan senyuman.
Ketika ditanya siapa nama lengkapnya, Agnes menjawab, "Agnes West Water." Dia
tampak tersenyum sambil menjawab nama itu. Entah apakah benar itu nama lengkapnya atau bukan. Yang jelas, Agnes bukan orang yang gemar publikasi. Padahal, Agnes menjadi orang penting di sini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia datang ke Banda Naira 11 tahun lalu untuk sebuah penelitian. Dia ingin sebuah sampel penelitian yang terdiri dari semua warga dari sebuah tempat yang tidak terlalu besar. Karena itulah, dia mencoba mendatangi Banda Naira. "Saya sudah mengelilingi pulau ini dan pulau-pulau di sekitar sini," ujar Agnes yang fasih berbahasa Indonesia ini.
Pertama kali ke Banda Naira, dia menyelesaikan penelitiannya selama satu setengah tahun. Setelah penelitian selesia, dia kembali ke Darwin. Tapi, rupanya pesona Banda Naira tetap memikat hatinya. Maka, dia pun kembali lagi ke Banda Naira. Dan 'hobi' itu terus berlangsung hingga saat ini.
Bila berkunjung ke Banda Naira, Agnes tinggal cukup lama. "Saya sekali berkunjung ke sini, tinggal dua atau tiga bulan," aku dia. Dia selalu menginap di Delfika Guest House, yang terletak hanya 2 meter dari Rumah Pengasingan Bung Sjahrir. Di sini, dia punya kamar pribadi. Meski diminta tidak usah membayar uang sewa, Agnes menolak tawaran itu dan tetap membayar uang sewa sebagaimana mestinya.
Sering kembalinya Agnes ke Banda Naira karena dia sangat terkesan suasana dan
penduduk Banda Naira. "Di sini tidak ribut, sepi, dan ramah," ujar Agnes. "Tidak seperti Jakarta," sambung dia.
Namun, dia mengeluhkan sarana transportasi ke Banda. Untuk menuju Banda, dia harus terbang dari Darwin menuju Jakarta, kemudian lanjut terbang ke Ambon dan kemudian terbang ke Banda Naira. "Coba kalau ada pesawat langsung dari Darwin menuju Banda, pasti lebih baik. Kalau ada, Darwin-Banda hanya ditempuh 3 jam saja," jelas Agnes.
Di Banda Naira, Agnes melakukan kegiatan sosial. Dia sangat tergerak untuk meningkatkan SDM para warga Banda. "Sudah banyak anak-anak Banda yang ia kasih
bea siswa dan sekolahkan ke luar daerah," kata seorang warga Banda Naira, Husein Abdillah.
Menurut Husein, aktivitas Agnes sangat membantu warga Banda Naira. "Kami sudah
menganggap dia sebagai keluarga. Coba kalau banyak orang Indonesia yang melakukan aktivitasnya di sini seperti Agnes," ujar dia.
Agnes merupakan pribadi yang akrab. Dia juga suka bergurau. Saat ditanya bagaimana makanan di Banda, Agnes mengaku sangat suka. Dia suka makanan yang pedas.
"Saya ini, badan bule tapi makanan Indonesia," kata Agnes menutup pembicaraan.
(asy/fay)










































