Sempat Semburkan Gas, Gunung Merapi Tetap Berstatus Normal

Sempat Semburkan Gas, Gunung Merapi Tetap Berstatus Normal

- detikNews
Minggu, 01 Agu 2010 18:03 WIB
Sempat Semburkan Gas, Gunung Merapi Tetap Berstatus Normal
Yogyakarta - Gunung Merapi di perbatasan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah sempat menyemburkan gas. Meski sempat ada peningkatan aktivitas, Gunung Merapi tetap bersatus aktif normal.

"Memang sempat ada peningkatan aktivitas beberapa bulan yang lalu, tapi setelah itu tidak ada kelanjutannya. Status Merapi masih aktif normal seperti sebelumnya," ungkap Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), Subandriyo, kepada wartawan di sela-sela acara Workshop Fotografi Merapi Volcano Expo di Jl Cendana, Yogyakarta, Minggu (1/8/2010).

Menurut Subandriyo, peningkatan aktivitas berupa semburan gas yang disebut swamp vulkanik itu hanya berlangsung sesaat. Setelah itu tidak ada peningkatan aktivitas yang terpantau oleh pos-pos pengamatan Merapi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semburan gas yang terpantau itu terjadi beberapa kali, tapi setelah itu normal lagi. Hal ini akibat adanya akumulasi gas vulkanik di perut bumi dengan tekanan tinggi naik ke atas," katanya.

Dia mengatakan besar kecilnya letusan Merapi itu tidak tergantung dari lamanya masa istirahat. Sejak aktifitas erupsi tahun 2006, sampai tahun ini belum ada peningkatan. Dengan demikian BPPTK tidak menaikkan status yakni tetap aktif normal. Material yang masih berada di puncak berkisar 1,2 juta meter kubik.

"Belum tentu setelah istirahat lama kemudian akan ada letusan besar atau sebaliknya istirahatnya sebentar kemudian letusannya juga akan kecil. Semua tergantung suplai magma dari dalam," katanya.

Hal senada juga dikatakan oleh Kepala Seksi Gunung Merapi, Sri Sumarti, periode erupsi 3-7 tahun bukan menjadi patokan pasti untuk menentukan masa erupsi Merapi. Sampai tahun ke empat ini belum ada tanda-tanda Merapi akan meningkat aktivitasnya.

Menurut Sri, berdasarkan data yang ada sampai saat ini pertumbuhan kubah lava di puncak sudah berhenti sejak bulan November tahun 2007. Oleh karena itu di saat Merapi tenang ini yang perlu dilakukan adalah memberikan penyadaran kepada masyarakat yang tinggal di lereng gunung mengenai pentingnya mitigasi bencana. Hal ini dilakukan di empat kabupaten yakni Sleman, Magelang, Boyolali dan Klaten.

"Kita wajib melakukan pelatihan penanggulangan bencana, karena ada sekitar 10 ribu jiwa warga yang tinggal di daerah rawan bencana 3 yang paling dekat dengan jarak 3-7 kilometer dari puncak atau yang berdekatan dengan sungai yang berhulu di Merapi," pungkas Sri Sumarti.

(bgs/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads