Tidak Ada Preman di Tanah Lahir Beta

Catatan Sail Banda

Tidak Ada Preman di Tanah Lahir Beta

- detikNews
Minggu, 01 Agu 2010 11:05 WIB
Tidak Ada Preman di Tanah Lahir Beta
Ambon - Jika masih ada yang berpikir Kota Ambon rawan dan tidak aman, sebaiknya dia berpikir ulang dan segera mengecek sendiri kondisi ibukota provinsi Maluku itu saat ini. Ambon kini sudah kembali ke sifat aslinya, seperti sebelum kerusuhan tahun 1999, yakni rasa aman dan persaudaraan yang sangat kental.

Setidaknya kondisi itu dialami sendiri oleh detikcom, saat meliput rangkaian acara Sail Banda 2010, Sabtu (31/7/2010). Setiap orang di jalan-jalan bertegur sapa dan saling melempar senyum ketika berpapasan.

Soal keamanan bagi para pendatang, Ambon juga seakan memberi jaminan keamanan. Setidaknya hal ini detikcom rasakan saat bersama-sama teman wartawan lain berjalan di pusat kota pada tengah malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat kami menyusuri  Jl Diponegoro sampai Gong Perdamaian di Jl Sultan Hairun, tidak sedikit pun gangguan yang kami alami. Hal yang mungkin tidak bisa dirasakan ketika justru berada di ibukota Jakarta.

Bahkan, saat kami bersama-sama mengobrol di warung kopi, seorang pemuda dengan gampang ikut nimbrung dengan obrolan santai. John, pemuda itu, juga berani memberi jaminan kalau kota kelahirannya itu aman buat pendatang.

"Di sini kalau jalan sampai pagi, tidak ada yang berani mengganggu," kata John.

Hal itu pun memang benar-benar terjadi saat saya menumpang ojek kembali ke penginapan di Ahuru, berjarak 10 km dari pusat kota. Obrolan dengan pengemudi ojek saat melewati jalan-jalan gelap, tidak sedikit pun membuat saya berpikir bahwa ia akan bertindak jahat.

"Di Ambon sendiri tidak preman, Mas," kata Opan, pengemudi ojek.

Ia mengatakan, kalau kemudian banyak teman-temannya  yang menjadi preman di kota-kota besar di luar Ambon, itu semata-mata dikarenakan karena tuntutan kebutuhan hidup yang sulit didapat.

"Ya mungkin namanya orang kesulitan cari makan, jadi begitu," kata Opan sambil menyebut beberapa kelompok preman yang ia tahu di Jakarta.

Bahkan ketika kami sudah sampai di penginapan, pengemudi ojek itu mematikan mesin motornya dan masih menyelesaikan sisa cerita di perjalanan. Saat menerima ongkos, ia langsung memasukkannya ke dalam saku, tanpa mengecek jumlahnya.

"Terima kasih, selamat bersenang-senang di Kota Ambon," kata ayah dua anak itu sambil berlalu.

Indikasi perilaku premanisme hanya kami temukan saat hendak menyebrang ke Pulau Seram dari pelabuhan Unimua, satu jam perjalanan dari pusat kota. Di pelabuhan kecil itu, seorang pria yang tidak beseragam petugas membentak-bentak para calon penumpang yang membawa kendaraan agar segera memasukkan kendarannya ke dalam kapal. Dia pun meminta pungutan liar.

"Ah, kalau di kota sudah tidak ada seperti itu," kata Yusri, sopir yang kerap mengantarkan kami ke lokasi-lokasi peliputan.

Yusri adalah salah satu saksi mata kerusuhan di Ambon tahun 1999. Saat kerusuhan pecah, ia memutuskan untuk mengungsi ke Papua lalu ke Manado selama satu setengah tahun lebih. Di dua kota itu dulu dia  bekerja serabutan. Kini, setelah semuanya damai, ia menjalani pekerjaan sebagai sopir mobil sewaan.

"Saya juga tidak tahu kenapa dulu bisa begitu (rusuh)," kata dia sambil berharap kejadian yang membenamkan tanah kelahirannya tidak terulang lagi.

Dalam sebuah kesempatan, Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu mengatakan, salah satu tujuan Sail Banda 2010 adalah menunjukkan kepada dunia luar bahwa Maluku sudah aman. Jauh dari potensi ancaman keamanan, apalagi kerusuhan. Dan itu benar-benar kami rasakan.

(lrn/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads