Β
"Itu bukan vandalisme. Tapi semiotika (ilmu tentang tanda dan simbol) politik," kata pengamat politik Rocky Gerung saat dihubungi detikcom, Sabtu (31/7/2010).
Menurut Gerung, semiotika yang digunakan Pong jelas ditujukan kepada anggota parlemen. Aksi Pong mewakili kejengkelan publik terhadap kondisi parlemen.
Hal itu dilakukan Pong, karena kanal demokrasi yang selama ini ada tidak berfungsi dengan baik. "Kanal untuk partisipasi itu tersumbat," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini grafiti akademis. Jujur, adil dan tegas itu memang perliaku yang jauh dari DPR saat ini," tukasnya.
Coretan tiga kata itu bisa dianggap kritikan tegas terhadap mental para senator. Namun, perilaku Pong belum bisa dikategorikan sebagai pembangkangan terhadap negara.
"Ini belum masuk pada pembangkangan sosial tapi masih bentuk kepedulian makanya mengkritik," tandasnya.
(ape/ape)











































