Kelompok penari binaan Niniek El Karim itu tiba di Tunisia pada 18 Juli lalu dalam rangka misi kebudayaan Indonesia. Rombongan terdiri dari 10 orang penari, yang juga semuanya bermain musik, serta 1 orang pemusik profesional.
Mereka menempuh perjalanan lebih dari 1.300 Km ke berbagai daerah di Tunisia. Grup kesenian ini unjuk kebolehan di berbagai kota seperti Jerba, Gafsa dan Sousse, di kawasan Tunisia Selatan, dan di El-Menzah, Ezzahra serta Hammam Lif di Tunisia Utara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada tari Topeng Ubruk dari Jakarta, tari Makosu dari Nusa Tenggara, tari Batang Hari dari jambi, tari Baris dari Bali dan gubahan tari Indang yang dikombinasikan dengan tari Piring dari Minang," tulis pejabat KBRI Tunis M Yazid, dalam rilis yang diterima detikcom, Jumat (30/7/2010).
Sayangnya, Ninik tidak bisa mendampingi LTKB dalam pementasan terakhir ini. Ia harus kembali ke Indonesia sehari setelah rombongan menyelesaikan pertunjukan di Gafsa.
Anggota Dihukum
Tur budaya yang dilakukan para mahasiswa-mahasiswi UI selama di Tunisia itu dipenuhi dengan suka duka. Ada satu kejadian di mana anggota dari LTKB, Mardiko, lupa membawa kostum tarinya saat hendak pindah dari Pulau Jerba ke Gafsa.
Meski kesalahan itu dimaafkan, namun tetap saja Mardiko harus menerima hukuman, yakni mengenakan kostum tradisional Suku Dayak dan Melayu selama 2 hari libur pentas. Tidak dinyana, banyak warga Tunisia yang tertarik dengan penampilan Mardiko itu sehingga berebut untuk berfoto bersama.
Keindahan Tunisia membawa kesan tersendiri bagi anggota LTKB. Mayyada Almasjhur misalnya. Mahasiswi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya jurusan Sastra Perancis ini sangat senang berada di Tunis. Semula ia menduga penduduk di negeri itu kolot-kolot dengan wilayah yang tandus sebagaimana stereotip negara-negara Arab dan Afrika.
"Begitu sampai di sini ternyata negaranya modern, terbuka dan indah banget, dengan pantai-pantai dan kota-kotanya. Secara budaya, mungkin tidak terlalu berbeda dari di Indonesia, karena sama-sama negara berpenduduk muslim. Hanya saja di sini lebih terbuka dibanding di Indonesia, dan sangat aman," ungkap Mayyada yang juga ketua rombongan ini.
Hal yang sama juga dirasakan Fadhlan Al Abraar. Dari perjalanan di kawasan selatan yang merupakan daerah sub-saharian yang gersang, dia tak menyangka para penduduk Tunisia mampu bertahan dengan kondisi seperti itu. Bahkan, lanjutnya Tunisia dapat mencapai tingkat kemakmuran seperti Indonesia yang kaya sumber daya alam.
"Bagaimana penduduk awal negeri ini bertahan? Kurma, zaitun, buah tin, pantai, bukit, unta, hanya dengan itu mereka bisa maju. Luar biasa," ujarnya.
Anggota rombongan lain dalam kunjungan ke Tunisia itu adalah Asih Mayasari, Rossa KSP, Sitanti Pujiharti, Era Para Restina, Sanya Nataya Emil, Anisa Tasya Priastika, Mardiko, Taufiqurrachman, dan pemusik Nasrul Zein.
(irw/mok)











































