"Dari panasnya, saya curiga DB atau apalah. Beberapa bulan lalu yang operasi jantung, dia pernah kena gejala DB juga," kata Djaduk saat dihubungi detikcom, Kamis (29/7/2010).
Djaduk menceritakan sebelum masuk RS, Butet baru pulang dari Samarinda dan sekaligus mengantar mertuanya. Setelah itu, Butet bertolak ke Jakarta. Namun sejak di Samarinda, Butet sudah merasakan panas di tubuhnya.
"Dia sendirian di Jakarta ada shooting di Metro TV, karena kondisinya nggak memungkinkan makanya dibreak acaranya. Saya telepon nggak diangkat. Ternyata untuk angkat telepon saja dia sudah nggak kuat," jelasnya.
Akhirnya, lanjut Djaduk, Butet kemudian diterbangkan pulang ke Yogyakarta. Sesampainya di Yogya, Butet langsung dibawa ke rumah sakit.
"Sebelum masuk rumah sakit, panasnya sempat 41 derajat. Tapi tadi malam sudah 39 derajat," ujarnya.
Menurut Djaduk, dirinya terus menemani Butet hingga tadi pagi. Kondisi Butet terakhir ditinggalkan sedang tidur. Butet masih merasakan panas yang cukup tinggi di mulutnya. Bahkan Butet susah untuk menelan makanan.
"Mulutnya panas kayak ada api. Makannya susah. Minum obat pakai pisang nggak bisa minum pakai air. Dikasih obat akhirnya dia bisa tidur," ungkapnya.
Djaduk menambahkan dirinya masih belum mengetahui diagnosa dokter atas penyakit yang diderita Butet. Namun Djaduk berharap kakaknya hanya mengalami kecapekan karena tak bisa menjaga kondisi tubuhnya.
"Ya mudah-mudahan capek saja. Kurang me-manage tubuhnya saja mungkin. Saya masih menunggu hasil dokter juga," imbuhnya.
(gus/fay)











































