"Pertama, karena masyarakat kita suka kemewahan. Sifat ini sangat dekat dengan sifat konsumerisme budaya masyarakat Indonesia. Jadi kalau ada uang, beli mobil," kata sosiolog Universitas Indonesia (UI), Dr Musni Umar, saat berbincang dengan detikcom, Kamis (29/7/2010).Β Β
Faktor kedua yaitu kendaraan adalah simbol kesuksesan. Hal tersebut telah ada sejak zaman Majapahit dengan memiliki kuda sebanyak-banyaknya. Masyarakat memandang keberhasilan seseorang ketika bisa menaiki kendaraan pribadi yang mahal dan mewah. Sehingga semakin banyak memiliki kendaraan, maka merasa semakin sukses.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor terakhir yaitu kedisiplinan masyarakat yang tidak teratur. Dalam berlalu lintas, masyarakat tidak mematuhi aturan dan tak mau mengalah sesama pengguna jalan serta suka menyerobot rambu-rambu lalu lintas.
"Tapi faktor utamanya ya karena sistem transportasi yang buruk. Jumlah bus TransJakarta tak memadai. KRL tak nyaman. Subway tak ada," jelasnya.
Solusinya, pemerintah harus tegas dalam menegakkan hukum. Termasuk di dalamnya membuat peraturan lalu lintas dan sistem transportasi. "Kalau sistemnya sudah baik, ya budaya perlahan ikut berubah," ujar Musni.
(asp/nrl)











































