"Dari 150 sekolah yang menjadi sampling, 30 persen dari jajanannya meracuni anak-anak, mulai dari makanan kemasan hingga sambel ulek yang dibuat sendiri oleh pedagang," kata Mantan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Sampurno dalam acara ngopi sore bareng Sinar Harapan di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (28/7/2010).
Menurutnya, jajanan yang dijual dengan harga murah baik di kantin maupun di luar sekolah, masih banyak yang mengandung bahan kimia. Lebih parahnya lagi, pihaknya pernah menemukan minuman yang mengandung pewarna cat di jajanan anak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kedisiplinan adalah salah satu kunci untuk memerangi jajanan tidak sehat ini. Setiap pedagang harus izin sekolah, proses membuat makanannya juga harus dipantau," imbuhnya.
Menanggap masih banyaknya jajanan di sekolah yang berbahaya bagi kesehatan siswa, Pelaksana Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM, Hayati Amal mengakui bahwa pengawasan BPOM terhadap jajanan siswa di sekolah belum bisa menjangkau ke semua sekolah.
BPOM lanjutnya, tetap melakukan sosialisasi kepada para siswa mengenai bahaya jajan sembarang. Pihaknya, juga menghimbau agar para siswa lebih teliti disaat membeli jajanan berupa snack.
"Makanan kemasan seperti snack, bisa dilihat dari bungkusnya, jika ada kode MD atau ML, itu berarti sudah terdaftar di BPOM," katanya.
Hayati juga meminta peran aktif orang tua dan sekolah untuk menghimbau kepada para anak-anak agar lebih berhati-hati, tidak jajan sembarangan. "Orang tua dan sekolah diharapkan berperan penting untuk menjaga anak dari jajanan tidak sehat ini," tutupnya.
(did/Rez)











































