Ilmuwan di Weizmann Institute of Science di Revohot, Israel, mengetes detektor nafas yang memiliki kemampuan untuk mengubah tekanan di lubang hidung menjadi sinyal listrik. Demikian dilansir dari telegraph.co.uk, Selasa (27/7/2010).
Alat tersebut dapat dihubungkan dengan perangkat lunak khusus yang kemudian dapat digunakan untuk memindahkan kursor di layar komputer atau mengontrol kursi roda. Detektor itu telah diujicobakan kepada tiga orang lumpuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perempuan paruh baya itu belajar untuk mengatur nafasnya selama 20 menit setiap hari dalam kurun waktu 19 hari. Setelah terlatih, untuk pertama kalinya dia mampu menulis pesan untuk keluarganya.
Pasien lainnya adalah seorang pria yang sudah lumpuh selama 18 tahun karena kecelakaan mobil. Dengan bantuan alat tersebut, dia mampu menulis namanya sendiri dalam 20 menit, bahkan mampu menggerakkan kursi roda dan berselancar di internet.
Dr. Noam Sobel, neurobiologis di Weizmann Institute, mengembangkan piranti ini karena ketidaksengajaan. Ditambahkan dia, ide penemuan alat tersebut terinspirasi oleh pemicu bau olfactometer yakni alat yang dapat memproduksi gelombang bau.
"Kami beritahukan, nafas itu sangat bagus dan menjadi pemicu dengan cepat," ujarnya kepada majalah pengetahuan AS Discover Magazine.
"Alat itu benar-benar bermula dengan memicu nafas, lalu kami dapat memicu apa pun: huruf-huruf dalam penulisan teks atau menggerakkan kursi roda," katanya.
Kesangsian akan kinerja alat ini diungkapkan Niels Birbaumer dari Universitas Tubingen, Jerman. Menurut Dr Sobel, dia ragu-ragu jika pendeteksi nafas akan bekerja untuk pasien yang benar-benar lumpuh. Dia menyampaikan kepada New Scientist Magazine bahwa pasien yang benar-benar lumpuh tidak akan cukup mampu mengontrol sistem ototnya untuk bekerja. Dr Sobel meresponsnya dengan mengatakan bahwa sistem tersebut masih dalam tahap pengembangan.
(nrl/nrl)











































