Pemerintah Orba pun menuding Budiman Sudjatmiko, Ketua Partai Rakyat Demokratik saat itu, sebagai dalang kerusuhan. Pasalnya, beberapa hari sebelum kerusuhan ia dan beberapa rekannya mendeklarasikan perlawanan terhadap pemerintahan Soeharto.
Alhasil, ia dan beberapa rekannya divonis 6 sampai 13 tahun penjara, sampai akhirnya dibebaskan setelah era reformasi.
"27 Juli adalah momentum sejarah yang membuka tabir otoritarianisme yang saat itu menginjak-injak hak asasi rakyat dalam berdemokrasi, yakni hak berpartai, berkumpul dan hak menyatakan pendapat," kata Budiman saat berbincang dengan detikcom, Selasa (27/7/2010).
Dari titik pijak momentum itulah, katanya, kehendak rakyat untuk perubahan dan berdemokrasi di Indonesia disiarkan ke penjuru Nusantara.
"Gerakan 27 Julilah yang memberikan inspirasi pada Reformasi Mei 1998 yang hasil-hasilnya sekarang kita nikmati dengan segala kelebihan dan kekurangannya," kata dia.
Budiman secara pribadi mengaku bangga karena menjadi bagian yang ikut terlibat dalam gerakan perlawanan tersebut, meski akhirnya harus merasakan dinginnya lantai bui.
"Namun untungnya Reformasi 1998 segera datang untuk membebaskan rakyat Indonesia dari otoritarianisme, dan juga membebaskan diri kami dari penjara," kata Budiman.
Kini setelah 14 tahun berlalu, Budiman melihat spirit peristiwa 27 Juli harus diteladani oleh para elit dan penggiat demokrasi saat ini.
"Bahwa demokrasi hari ini adalah pencapaian yang panjang dan bukan sekedar rutinitas atau transaksi belaka," kata pria yang kini duduk sebagai anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR ini.
Oleh karenanya, kata dia, demokrasi yang sekarang berjalan dan terus diperjuangkan harus membawa kesejahteraan rakyat dan memuliakan peradaban.
"Karena demokrasi sudah ditebus dengan keringat, air mata dan bahkan nyawa," katanya.
(lrn/fay)











































