Berita-berita yang ditulis Syaiful memang kerap mengkritik kebijakan terkait perizinan tambang dan kerusakan lingkungan yang terjadi. Misalnya saja pada Januari 2010, mengenai penambangan yang memprihatinkan.
Syaiful ikut sebagai penyumbang dalam tulisan yang menyindir praktik penambangan, yang membabat kawasan lahan konservasi. Hingga kemudian karena berita itu, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengirim surat teguran kepada gubernur, para penambang, dan bupati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai Kepala Biro Kompas Kalimantan, tentu Syaiful memiliki perhatian mengenai praktek tambang dan lingkungan. Seperti halnya berita pada 10 Juni 2010 yang dimuat kompas.
Dalam berita berjudul 'Izin Pertambangan Ancam Orang Utan' Syaiful menuliskan bahwa sekitar 13 perusahaan pertambangan batu bara mengavling sekitar 1.300 hektar lahan milik Inhutani yang berdekatan dengan hutan lindung.
Disinyalir banyak pihak gusar karena tulisannya. Akibatnya banyak yang mengkaitkan kematiannya dengan berita dan tulisan soal pertambangan. Disebut-sebut Syaiful pernah mendapat ancaman.
Apalagi, pihak Kompas memastikan Syaifullah, saat beberapa hari lalu sebelumnya ke Jakarta. Dia tampak sehat dan tidak mengeluhkan apa pun. "Kami sangat terkejut. Belum lama ini dia ke Jakarta. Dia tampak sehat dan tidak mengeluhkan apa-apa. Kami sangat kehilangan dia," kata Pemimpin Redaksi (Pimred) Kompas, Rikard Bagun, saat dihubungi detikcom, Senin (26/7/2010).
Di mata Rikard, Syaifullah merupakan salah satu wartawan yang sangat aktif dan kritis. "Banyak tulisan mengenai kerisauannya terhadap alam kalimantan yang terus dikeruk dan punya komitmen untuk penegakan pemerintahan yang bersih," ujar Rikard.
Jadi benarkah Syaifullah meninggal karena dibunuh? Walllahua'lam.
(ndr/fay)











































