Sesaji utama yakni kepala kerbau dan beberapa ekor ayam cemani yang telah dibakar dan satu masih hidup. Mereka juga melarung segayung darah kerbau sebagai ritual nelayan.
"Ini menyambut Ramadan, kami meyebutnya nyadran. Sedekah laut unuk mencari berkah dan rizki melimpah setahun ke depan," kata salah satu nelayan Riyanto sebelum melarung di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, Minggu (25/7/2010).
Ratusan nelayan itu terlihat bersemangat melepas sesaji. Mereka memadati perahu kayu yang telah reot. Di atas perahu tersebut, diikatkan berbagai hasil bumi, palawija dan hasil laut. Mereka beriringan melepas sesaji utama yang diletakkan di perahu paling besar.
Sebelumnya, dalang Ki Hasan Boher Muda meruwat sesaji. Ki Hasan memainkan lakon wayang kulit terlebih dahulu sekitar 2 jam. Kemudian melakukan ritual 'pencucian' dengan sebagian darah kerbau yang telah dicampur kembang ke kawasan nelayan tersebut.
"Ini keyakinan untuk menghormati laut. Jangan dikotori, jangan dicemari," imbuhnya.
Menurut pemrakarsa dari salah satu LSM, Riza Damanik acara ini untuk menguatkan eksistensi nelayan. Sekaligus sebagai upaya menunjukan eksistensi nelayan agar tidak tergusur industri besar.
"Agenda ini untuk menghetikan pencemaran, isu-isu industri yang merugikan nelayan dan reklamasi yang membuat nelayan kehilangan hak-haknya," ucap Riza.
(Ari/fay)











































