Suatu Malam di Showroom Harley Davidson SCBD

Suatu Malam di Showroom Harley Davidson SCBD

- detikNews
Rabu, 21 Jul 2010 19:40 WIB
Suatu Malam di Showroom Harley Davidson SCBD
Jakarta - Untung Airlangga bersiap menutup toko ketika dua orang pria bergegas ke arahnya pada suatu malam hampir setahun lalu. Arlojinya menunjukkan 15 menit menjelang berakhirnya jam operasional showroom Mabua Harley Davidson, SCBD, Jakarta.

"Saat itu mendekati tutup toko sekitar, jam 21 kurang. Pak Alif dan Pak Arafat pada datang sendiri-sendiri," ucap Untung dalam kesaksiannya di PN Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jakarta, Rabu (21/7/2010).

Alif bukan sosok asing di mata Untung. Alif adalah seorang penggemar motor gede (moge) yang juga pelanggan di Mabua. Bahkan pada 2008, Alif membeli sebuah moge dan yang melayani adalah Untung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada kedatangannya di suatu malam di bulan Ramadhan 2009 itu, Alif ditemani seorang pria berpenampilan klimis. Setelah dikenalkan oleh Alif, barulah ntung tahu pria itu seorang polisi dan bernama Arafat Enanie.

"Saya tahu dia polisi setelah mengobrol. Tapi saya tidak tahu dia dinas di mana," imbuh Untung.

Setelah bercakap-cakap mengenai moge, Arafat menyodorkan sebuah flashdisk kepada Untung dan meminta tolong mencetak dokumen yang tersimpan di dalam media penyimpanan elektronik itu. Tapi karena gagal mengoperasikan mesin printer, permintaan Arafat tidak dapat Untung penuhi.

Belakangan di dalam berkas perkara Arafat diketahui bahwa dokumen yang dia cetak adalah surat penetapan penurunan status hukum Imam Cahyo Maliki -adik Alif Kuncoro- dari tersangka menjadi saksi. Imam Cahyo Maliki adalah konsultan pajak Bumi Resources di mana Gayus Tambunan menjadi tersangka dan proses hukum kasusnya di Bareskrim Mabes Polri ditangani oleh Kompol Arafat.

"Setelah itu Pak Alif dan Pak Arafat bicara-bicara sebentar. Pak Arafat sambil mencoba-coba motor," sambung Untung.

Apa yang mereka bicarakan saat menjajal moge tersebut?

"Arafat ditanyakan, apakah mau motor itu? Dijawabnya, kalau ditawari ya mau," tukas jaksa Teguh Wardoyo dalam dakwaanya pekan lalu.

Alif cepat tanggap dengan jawaban basa-basi Arafat itu. Setelah menawarkan unit Harley Davidson Ultra Classic warna hitam itu yang dibalas Arafat dengan anggukan kepala, Alif menemui menyerahkan uang tanda jadi sebesar Rp 20 juta kepada Untung.Β 

Total uang yang Alif keluarkan pada malam itu mencapai Rp 26 juta. Ada pun Rp 6 juta berikutnya adalah untuk pembayaran satu posong kemeja dan jaket kulit berlogo Harley Davidson yang dipilih oleh Arafat.

"Pada waktu membayar uang muka, baru saya tahu motor itu untuk diantar ke alamat Pak Arafat. Indent-nya satu bulan dan waktu diantar sudah lunas. Pak Alif yang membayarnya lewat transfer bank satu kali," tutur Untung.

Hanya saja, saat hendak bea balik nama untuk membuat STNK, Untung menjadi k kebingungan. Baik Alif yang pengusaha bengkel dan Kompol Arafat sama-sama tidak mau namanya tercantum di STNK sepeda motor seharga ratusan juta rupiah itu.

"Tidak tahu diatasnamakan siapa. Pak Arafat bilang atas nama Pak Alif, tapi Pak Alif bilang atas nama Pak Arafat saja. Fotocopy KTP belum siap atas nama siapa, kita bingung atas nama siapa," ucapnya.

Beberapa bulan kemudian baru terungkap apa musabab Arafat dan Alif saling berkeras menolak namanya tercantum dalam STNK. Yaitu saat Komjen Susno Duadji menebar informasi makelar kasus mafia di lingkungan Bareskrim Mabes Polri.

Arafat yang merasa tindak-tanduknya tercium, bahkan sampai enggan melihat Harley pemberian Alif. Dia meminta Untung menarik sepeda motor yang sudah nangkring di rumahnya di kawasa Sawangan, Depok, itu tanpa alasan yang jelas.

"Pak Arafat meminta motornya ditarik lagi. Lalu saya taruh di showroom MABUA Cilandak," ucap saksi kedua Sapta Hariadji.

Apa tanggapan Alif atau pengacaranya atas kesaksian tersebut? Keduanya hanya berujar singkat. "Ya kira-kira begitu," ucap Dani Surya, salah satu pengacara Alif.

(Ari/lh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads