"Kita betul-betul menghargai, kita apresiasi komunikasi yang direspon positif begini," ujar sosiolog Universitas Indonesia (UI) Imam B Prasodjo.
Hal itu disampaikan dia usai Lokakarya 'Karakter Bangsa' di Kantor Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Jl Tentara Pelajar, Patal Senayan, Jakarta, Rabu (21/7/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagaimana memperlakukan masyarakat pemilih SBY ini. Jangan biarkan Paspampres yang tidak punya andil dalam politik merusak image Presiden," tukas Imam.
Dia mengimbau agar Paspampres meninggalkan cara-cara kasar dan menggantinya dengan lebih simpatik.
"Tinggalkan sisa-sisa cara-cara lama itu. Melakukan pengamanan kan tidak harus dengan cara kekerasan," tambahnya.
Sedang mengenai tempat tinggal Presiden, Imam mendukung jika Presiden tinggal di Istana. Hal ini untuk memudahkan kerja Presiden.
"Rakyat tidak keberatan membayari, supaya Presiden tak usah membayar uang kontrak. Walaupun tidak sebagus White House, Istana setidaknya lebih indah dari rumah BTN," ujarnya dengan canda.
Tentu, katanya, harus dibedakan antara urusan negara dengan urusan pribadi dan partai. Imam pun memaklumi jika Presiden sesekali kangen dengan rumah pribadinya.
"Tiap minggu pulang ke rumah wajar lah. Tapi Paspampres dan iring-iringannya tidak harus panjang dan membuat repot orang kan?" tutur Imam.
(nwk/lrn)











































