Mensesneg: Anggaran Kunjungan Presiden ke Luar Negeri Efektif & Efisien

Mensesneg: Anggaran Kunjungan Presiden ke Luar Negeri Efektif & Efisien

- detikNews
Rabu, 21 Jul 2010 17:45 WIB
Jakarta - Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA) mengkritik anggaran dinas ke luar negeri Presiden SBY yang dinilai terlalu berlebihan. Namun, pemerintah menjamin seluruh anggaran sudah dirumuskan lewat prinsip efektif dan efisien.

Hal inidetikcom disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Sudi Silalahi kepada  sebagai hak jawab atas pemberitaan berjudul 'Anggaran Kunjungan Luar Negeri Presiden SBY Dikritik' (5/7).

"Pada setiap perjalanan dinas, presiden selalu mengedepankan prinsip efisiensi dan efektivitas. Untuk penghematan, kunjungan menghadiri sidang di berbagai forum regional dan multilateral, seringkali dirangkaikan dengan kunjungan kenegaraan ke beberapa negara sahabat," jelas Sudi lewat surat kepada detikcom, Rabu (21/7/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sudi meminta masyarakat paham bahwa kunjungan ke luar negeri Presiden RI merupakan konsekuensi logis dari peningkatan kiprah Indonesia, baik pada tataran kawasan atau multilateral-global. Kunjungan presiden juga berpotensi meningkatkan kerjasama politik, ekonomi, sosial budaya, dan hankam yang menguntungkan bagi kepentingan Indonesia.

"Sebagai kepala negara, Bapak Presiden berkewajiban untuk menghadiri pertemuan internasional yang semakin banyak, seperti KTT ASEAN, APEC, ASEM, G-20, D-8, OKI dan PBB. Dalam beberapa pertemuan tertenu, presiden harus hadir karena berfungsi sebagai ketua ataupun co-chairman untuk memimpin sidang-sidang regional, multilateral dan global," tambahnya.

Menurut Sudi, kunjungan presiden juga sudah menghasilkan peningkatan nilai perdagangan bilateral hingga USD 30 miliar dari nilai USD 20 miliar di tahun 2005. Sejumlah kunjungan ke Saudi Arabia, Kuwait, Qatar dan Uni Emirat Arab juga telah meningkatkan hubungan Indonesia dengan negara-negara itu, khususnya untuk mendorong mereka menanamkan modal di Indonesia.

Sudi juga menegaskan, memang terjadi perbedaan frekuensi kunjungan ke luar negeri antara Presiden SBY dan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Mega selama 3 tahun menjabat telah melakukan lawatan 15 kali untuk mengunjungi 49 negara. Sementara SBY, dalam masa jabatan 2004-2009, sudah melawat 35 kali untuk mengunjungi 70 negara.

"Mengenai jumlah rombongan, presiden juga selalu mengedepankan prinsip efisiensi. Rombongan yang menyertai beliau, dipilih secara selektif dan disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsinya. umlah rombongan terdiri dari menteri yang mendampingi, staf dan petugas, serta pengamanan paspampres dan juga para wartawan sejak tahun 2005 telah diefisienkan sebanyak 15 persen. Beliau juga benar-benar memperhitungkan agar perjalanan ke luar negeri dapat dilaksanakan dengan biaya proporsional," tutupnya.

(mad/fay)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini