"SBY memang protokolernya terlalu banyak. Itu kurang bagus, mengindikasikan seolah-olah SBY dalam kondisi tidak aman. Kalau pulang ke rumah, sebaiknya satu atau dua saja pengawalannya, dan pada waktu malam hari sehingga tidak merepotkan warga," papar Laode kepada detikcom Jumat (16/7/2010).
Menurut Laode, aktivitas pimpinan negara tidak boleh membuat warganya menjadi terganggu. Jangan sampai kalau melewati jalan, semua diberhentikan. "Ini tidak boleh terjadi, karena Presiden harusnya membuat semua nyaman," tegasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau pulang bisa kita pahami karena itu hak. Tetapi ketika mulai dari jalan, sampai sekitar tempat tinggal yang diblokir, ini menjadi seolah-olah mencekam," paparnya.
Laode berharap kearifan SBY atas kritik masyarakatnya yang sudah mulai berani mengungkapkan kejengkelannya saat menghadapi situasi ketika rombongan SBY dan keluarganya menuju Jakarta.
"Jika terlalu proteksionis, wajar saja masyarakat terganggu. Apalagi kadang kendaraan para pejabat itu melaju dengan kecepatan terlalu tinggi," ujarnya.
Laode berharap protes warga ini dijadikan evaluasi bagi SBY dan para pengawalnya untuk lebih ramah dan tidak lagi merepotkan warga.
"Banyak hal yang perlu dibenahai dalam hal protokoler kepresidenan. Pemahamannya harus dibalik, Presiden itu disayangi rakyat. Karena itu tidak perlu khawatir sehingga dikawal secara berlebihan," tegasnya.
(yid/ken)











































