Marsini Tewas Dipijak Gajah Saat Ambil Pucuk Daun Ubi

Marsini Tewas Dipijak Gajah Saat Ambil Pucuk Daun Ubi

- detikNews
Jumat, 16 Jul 2010 14:52 WIB
Pekanbaru - Sungguh naas nasib Marsini (47). Dia tewas terinjak injak kawanan gajah liar saat sedang memetik pucuk daun ubi (singkong) di belakang rumahnya.
Β 
"Konflik gajah dengan manusia sudah berlangsung lebih dari 5 tahun di tempat kami. Tapi sampai sekarang pemerintah daerah dan pusat tidak pernah mau menyelesaikan konflik ini. Kita masyarakat terus menjadi korban," kata Ketua Forum Komunikasi Peduli Sosial Masyarakat (FKPSM) Refri dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (16/07/2010) di Kabupaten Bengkalis, Riau.

Refri menjelaskan, korban tewas pada Kamis (15/07/2010) sore di belakang rumahnya, Desa Muara Bangsung, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Riau. Dalam beberapa bulan terakhir ini, di daerah ini sering didatangi puluhan ekor gajah liar. Hewan-hewan bongsor itu diperkirakan berasal dari kawasan Hutan Margasatawa Balai Raja yang tak jauh dari perkampungan mereka.

"Gajah keluar dari habitatnya, karena kondisinya sudah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit ilegal. Inilah penyebab terjadinya konflik berkepanjangan. Pemerintah tidak ada penindakan atas penguasaan hutan margasatwa secara ilegal itu," kata Refri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Korban sore itu tidak menyadari di belakang rumah ada kawanan gajah liar. Karena kepergok, gajah liar lantas melakukan penyerangan. Marsini yang sudah memiliki enam orang cucu itu, tubunya langsung diinjak gajah hingga tewas.

"Warga saat itu tidak berani memberikan pertolongan karena gajah liar masih mengepung rumah korban. Setelah gajah pergi, barulah masyarakat memberikan pertolongan. Namun korban sendiri sudah tewas," cerita Refri.

Kabupaten Bengkalis khususnya Kecamatan Mandau dan Pinggir dikenal sebagai daerah konflik gajah dengan manusia. Kurun waktu dua tahun terakhir ini sudah 3 nyawa melayang akibat diamuk gajah. Ini belum hitungan rumah dan perkebunan masyarakat yang rusak gajah.

"DPRD Bengkalis pernah memberikan solusi agar gajah ini direlokasi. Tapi kami masyarakat menolak, karena yang paling penting adalah bagaimana mengembalikan habitat gajah itu. Kendatipun gajah direlokasi ketempat lain, belum tentu tidak menimbulkan masalah baru lagi," kata Refri.

Masyarakat setempat sendiri sebenarnya merasa bangga daerah mereka memiliki puluhan ekor gajah liar. Sebab, hewan langka itu belum tentu dimiliki daerah lain.

"Yang kita minta kepada pemerintah pusat dan daerah, tolong kembalikan habitat gajah itu. Bongkar semua perkebunan sawit ilegal di kawasan hutan margasatawa Balai Raja itu. Gajah masuk ke perkampungan kami, karena habitat mereka yang dirusak," kata Refri.

(djo/djo)


Berita Terkait