Dikhawatirkan, orangutan yang terlalu lama tinggal di pusat rehabilitasi rentan terkena gangguan penyakit dan "bodoh" dan sulit beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Ketua Pembina Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Bungaran Saragih, mengatakan telah melepasliaran orangutan sebanyak 400 ekor sejak delapan tahun lalu. Namun, pihaknya kesulitan mencari hutan yang cocok bagi orangutan.
“Susah mendapatkan hutan yang cocok karena sudah rusak. Orangutan yang terlalu lama di pusat konservasi menjadi tidak peka pada habitat aslinya alias “bodoh” dan terserang penyakit,” kata Bungaran pada Lokakarya Konservasi Orangutan Internasional di Hotel Sanur Beach, Sanur, Denpasar, Jumat (16/7/2010).
Yayasan BOSF mempunyai sedikitnya 1.200 ekor orangutan di pusat rehabilitasi. Sebanyak 850 ekor pusat rehabilitasi Kalimantan dan sisanya di Sumatera.
Selama ini, orangutan rawan menjadi korban perburuan. Populasi orangutan kian menurun akibat perburuan dan pembabatan hutan. Di Kalimantan tersisa kurang dari 54.500 ekor orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan di Sumatera sebanyak 7.400 ekor Orangutan Sumatera (Pongo abelli).
(gds/nrl)











































