"Ini isu yang sensitif. Freeport dan BATAN perlu segera membuat klarifikasi bersama karena sepanjang informasi yang ada di kami, batuannya bukan pembawa uranium," kata Zul kepada detikcom, Kamis (15/7/2010).
Menurut doktor lulusan Amerika ini, laporan yang diterima Komisi VII DPR menyebutkan bahwa hasil survei BATAN di Papua hanya menemukan adanya anomali radio aktif di daerah Ransiki. Untuk membuktikan apakah ada kandungan uranium yang ditambang oleh PT Freeport sebenarnya mudah, karena sifatnya-sifatnya sangat teknis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zul berharap pihak yang mengungkap pertama kali kasus ini bersedia mengungkap secara detail dan membuat laporan kepada Komisi VII DPR. Bahkan, jika memang diperlukan, Komisi VII DPR bersedia menjadi fasilitator untuk mengungkap masalah ini.
"Kalau pelapor mau membuktikan, kita Komisi 7 siap memfasilitasinya," tegas politisi PKS yang saat ini sedang menjadi reseach fellow di Harvard University di Kennedy School of Goverment ini.
Sebelumnya beberapa media memberitakan protes dari beberapa anggota DPRD Papua soal dugaan penggalian bahan baku uranium secara diam-diam yang dilakukan oleh PT Freeport.
Ketua Fraksi Pikiran Rakyat Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua, Yan Permenas Mandenas mengungkapkan adanya dugaan pengalian uranium secara tersembunyi oleh PT Freeport. "Kegiatan ini dilakukan secara tersembunyi dan telah berlangsung cukup lama," ungkap Yan. (yid/fay)











































