"Kalau saya secara pribadi sebagai muslim menyakini bahwa salat menghadap Kabah, Kabatullah di Makkah Al Mukaromah, di tengah Masjidil Haram itu memang akan afdhol kalau bisa mengusahakan. Tetapi, ini kan normatif saja. Kalau saya pribadi ya afdhol," kata Din.
Hal ini disampaikan Din usai usai pertemuan antartokoh agama di Jalan Kemiri nomor 24, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/7/2010). Din menanggapi ralat kiblat oleh MUI.
Tetapi, kata Din, Islam seperti juga syariat Al Quran, yang penting tergantung hati yang menjalankannya.
"Tetapi kan tidak kemudian sesuai hati kita terus salat menghadap ke timur, kan juga tidak. Jangan terlalu dipersoalkan, serahkan sajalah," ujar dia.
Din menuturkan, jika ada yang mau mengambil afdholnya dan persis sekali menghadap Kabah, dapat dihitung secara eksak berdasarkan teknologi dan ilmu pengetahuan.
"Tetapi kalau seandainya tidak nggak pas-pas betul, ya saya berpendapat salatnya juga tidak batal atau tidak sah. Salatnya tetap sah," kata Din.
(aan/nrl)











































