"Aku maunya hari ini (keluar dari RS). Dokter sudah boleh kemarin. Saya masih tunggu koordinasi dengan teman-teman ICW," kata Tama di RS Asri, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Senin (12/7/2010).
Tama mengaku masih trauma atas insiden yang terjadi pada Kamis 8 Juli 2010 tersebut. "Takut pasti ada namanya juga manusia. Saya nggak bakal mundur. Masa sudah kayak gini ngilang begitu saja," ujar pemuda ini.
Luka di bagian kaki dan tangan Tama masih basah. Tama masih merasakan sakit di kakinya saat berjalan. Namun, Tama mengaku tidak mengalami pusing maupun sesak nafas meski kepalanya dijahit 29 jahitan itu.
Pengeroyokan pada Tama terjadi 8 Juli lalu di Duren Tiga, saat dia dan rekan-rekannya baru pulang dari menonton bareng Piala Dunia di Kemang, Jaksel.
(aan/nrl)











































