Pantauan detikcom, Presiden SBY tiba di rumah duka, Kompleks Yayasan Daarul Ma'arif, Jl Fatmawati, Cipete, Jakarta Selatan, sekitar pukul 08.50 WIB, Senin (12/7/2010). Tidak seperti biasanya, kali ini Presiden SBY datang melayat sendiri tanpa didampingi Ibu Ani Yudhoyono.
SBY yang mengenakan kemeja hitam lengan panjang dan peci hitam, disambut oleh salah satu putra almarhum, Syaiful Hadi, dan perwakilan keluarga di depan gerbang sebelum masuk rumah duka. SBY juga sempat mengucapkan salam kepada para pelayat sebelum memasuki rumah duka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat melayat di dalam rumah duka, SBY menyampaikan pidatonya tentang almarhum. Menurut SBY, almarhum merupakan sosok yang memiliki kearifan yang luar biasa.
"Kita telah kehilangan salah satu putra terbaik bangsa. Semoga beliau diterima di sisi-Nya sesuai dengan amal perbuatannya," ucap SBY.
"Kita mengenal beliau dalam penataan politik, beliau sebagai orang yang punya kearifan yang luar biasa. Banyak jasa beliau di negara ini," tuturnya.
Dikatakan SBY, almarhum adalah tokoh besar dengan pemikiran besar. Di negara ini, lanjut SBY, almarhum sudah aktif sejak masih usia muda.
Dijelaskan SBY, pada zaman Presiden Soekarno almarhum pernah menjadi Perdana Menteri, pada zaman Soeharto almarhum pernah menjadi menteri dan menteri senior, di parlemen almarhum pernah menjadi Dewan Pertimbangan Agung, kemudian dalam perkembangan Islam almarhum adalah tokoh NU.
"Atas nama negara, pemerintah, dan pribadi, saya mengucapkan belasungkawa untuk beliau dan kepada keluarga," ujar SBY.
Selain Presiden SBY, hadir pula pejabat negara lain, antara lain, Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, Menteri Agama Suryadharma Ali, dan anggota DPD AM Fatwa. Setelah berada di dalam selama 20 menit, SBY pun meninggalkan rumah duka.
(nvc/nrl)










































