"Panggil saja insial saya TR," ujar pria berambut pendek itu saat ditemui wartawan di Mal Cilandak Town Square, Jaksel, Sabtu (10/7/2010) malam.
TR mengaku, saat peristiwa itu terjadi pada Kamis (8/7) dini hari, dia tengah melintas di sekitar kawasan Jl Duren Tiga, Jaksel. Dia dalam perjalanan dari Puncak, Bogor menuju kawasan Jl Veteran, Jakpus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wartawan mengetahui keberadaan TR saat dia menjenguk Tama di RS Asri pada Sabtu
sore. Saat itu dia tidak mau diwawancara, hingga kemudian membuat janji pada malam harinya di Mal Cilandak Town Square.
Saat ditemui wartawan, dia memberikan keterangan yang berubah-ubah. Awalnya dia
mengaku diperiksa pada Sabtu siang sejak pukul 11.30-15.30 WIB di sekitar RS Asri tempat Tama dirawat. Namun belakangan dia mengaku diperiksa di Mapolres Jaksel.
Beberapa kali, TR dalam wawancara juga menerima panggilan telepon. Kata-kata 'Siap, Ndan!' yang diucapkan diduga kuat merujuk kepada kata komandan.
"Rumah saya di Jagakarsa, setiap malam saya ada urusan ke luar, ke Bandung," terang TR.
Saat Tama dianiaya dia memberikan pertolongan dengan memberikan tanda lampu jauh
kepada para penganiaya, dan meneriaki para pelaku untuk menjauh dari Tama. Bahkan TR mengaku sempat menabrakan mobilnya ke para pelaku.
"Kalau sudah hendak pembunuhan begitu saya bingung juga. Menurut Polres ini ada kasus. Ya soal itulah (terputus ucapannya). Tapi saya bilang, menurut saya nggak ada kasus ke situ. Bukannya sok tahu, kalau kita melihat kasus itu, nggak mungkinlah. Mungkin ini ada temennya Tama atau ada yang sirik. Dia kan ICW ya," terangnya.
Setelah penganiaya yang berjumlah 8 orang, dengan menggunakan 4 motor pergi. TR mengaku menawarkan bantuan kepada Tama untuk membawa ke rumah sakit, namun Tama menolak dan memilih naik taksi.
"Saya minta dia tinggalkan motornya, saya yang jaga sampai security RS Asri datang," tambahnya.
Hingga kemudian, TR mengaku pemberitaan yang menyudutkan soal dia membuatnya terpaksa muncul untuk memberikan klarifikasi. Namun dia menegaskan dia bukan anggota TNI ataupun Polri.
"Saya bukan anggota ya. Senjata itu juga bukan senjata api, hanya untuk jaga diri. Ya saya kerja saja. Di suatu tempat. Jangan terlalu terbukalah tentang pribadi saya," tuturnya.
TR juga mengaku menyembunyikan identitasnya dari pihak kepolisian, meski sudah di BAP. "Dari kepolisian sendiri saya tidak mau menyebut alamat, nama asli. Waktu saya disketsa, yang pertama memberi tahu sekuriti RS Asri. Sekuritinya kenal saya, tahu saya siapa. Yang pertama kasih tahu dia, saya dibuat sketsa. Sekuriti itu bilang, 'Bos, ente ada tuh di sini', Kemungkinan bisa jadi tersangka," tuturnya.
Karena diberi tahu sekuriti rumah sakit itulah akhirnya dia muncul. Namun dia menegaskan dirinya masih saksi, dia pun tidak takut ditangkap polisi karena dia memang tidak bersalah.
Apakah nanti Anda tidak takut diincar oleh para pelaku karena sudah memberikan kesaksian. Anda tidak meminta perlindungan polisi?
"Nggak usah, nggak perlu, aman. Polisi Jatanras juga menawarkan bagaimana ini, perlu nggak perlindungan. Saya bilang enggak usah," terangnya.
Anda punya beking? "Nggak ada something. Lagian mereka nggak kenal saya, saya juga jarang di Jakarta," tutupnya.
(ndr/fay)











































